benuanta.co.id, TARAKAN – Rencana pembangunan pabrik minyak goreng di Kalimantan Utara (Kaltara) terus dimatangkan. Pabrik yang diproyeksikan berdiri di lahan 4 hingga 5 hektare itu dirancang memiliki kapasitas 150 ton per hari.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Ir. Heri Rudiyono menyampaikan, kebutuhan konsumsi minyak goreng di daerah ini mencapai 8.750 ton per tahun. Dengan kapasitas produksi tersebut, kebutuhan lokal akan terpenuhi, bahkan masih ada kelebihan untuk diekspor.
“Kalau sudah terpenuhi untuk masyarakat, sisanya bisa kita ekspor. Ini juga akan menjadi tambahan devisa,” jelasnya, Kamis (2/10/2025).
Pabrik ini direncanakan memanfaatkan suplai dari 20 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 58 kebun plasma yang ada di Kaltara. Kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan sudah terjalin, di mana 10 persen produksi crude palm oil (CPO) akan dialokasikan untuk kebutuhan pabrik.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan produk minyak goreng lokal ini akan diberi nama “Minyaku”. Kehadirannya diharapkan mampu menghadirkan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Karena tidak lagi ada biaya angkut dari luar, otomatis harganya lebih murah. Tujuan kita menjaga inflasi, membuka lapangan kerja, dan menyejahterakan masyarakat,” katanya.
Tak hanya minyak goreng, pabrik juga akan menghasilkan produk turunan lain yakni biodiesel dan mentega. Selain itu, pemerintah menyiapkan pembangunan pabrik pupuk organik berbahan limbah PKS.
“Dengan adanya pabrik pupuk organik, kita bisa memanfaatkan limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Pupuk ini bisa digunakan untuk sawit, padi, maupun sayur,” jelasnya.
Ia menyebut, perencanaan ini sejalan dengan visi menjadikan Kaltara sebagai daerah mandiri dalam kebutuhan pangan dan industri berbasis sawit. “Mudah-mudahan segera terealisasi setelah penentuan lokasi final,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







