benuanta.co.id, BULUNGAN – Kalimantan Utara (Kaltara) kembali menjadi sorotan dunia internasional sebagai salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove terbesar di Indonesia. Tidak hanya luas, kawasan ini juga menjadi contoh dalam penerapan rehabilitasi mangrove berbasis pendekatan alami atau Ecological Mangrove Restoration (EMR).
Direktur Rehabilitasi Mangrove, Kementerian Kehutanan, Dr. Ristianto Pribadi, S.Hut., M.Tourism, menegaskan, Kaltara memiliki posisi penting karena menyimpan ekosistem mangrove yang masih luas, sekaligus menghadapi tantangan serius. Menurutnya, dari total ekosistem yang ada, sekitar 130 ribu hektare mangrove kini telah berubah fungsi menjadi tambak.
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita, bagaimana mengembalikan kawasan yang dulunya mangrove agar bisa kembali pada fungsi alaminya,” ungkapnya, Kamis (28/8/2025).
Pemerintah menargetkan dalam setahun ke depan lebih dari 20 ribu hektare mangrove di Kaltara akan direhabilitasi. Program ini didukung sejumlah pihak, di antaranya GGGI Wetland melalui proyek Nasklim, kerja sama dengan Bank Dunia lewat program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), serta kolaborasi bersama Pemerintah Jerman (KfW) untuk pemulihan seluas 1.500–1.800 hektare.
Selain menjadi pusat rehabilitasi, Kaltara juga berperan sebagai laboratorium pembelajaran dunia. Delegasi Sri Lanka yang berkunjung, misalnya, diajak melihat langsung praktik restorasi mangrove dengan sistem hidrologi yang diperbaiki lebih dulu sebelum penanaman, serta pentingnya menanam beragam spesies mangrove.
Menurut Ristianto, manfaat dari program ini tidak hanya untuk Indonesia, melainkan juga untuk posisi bangsa di kancah global. Indonesia, dengan 3,44 juta hektare mangrove atau 23 persen dari total dunia, ingin tampil sebagai pemimpin dalam konservasi dan rehabilitasi.
“Kata kuncinya adalah menginspirasi. Indonesia harus menjadi contoh dunia dalam melestarikan mangrove,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemampuan mangrove dalam menyerap karbon 5 hingga 8 kali lebih besar dibanding hutan daratan dan menjadikannya benteng penting dalam menghadapi perubahan iklim. Oleh karena itu, kerusakan mangrove justru membawa risiko lebih besar pula.
Selain Sri Lanka, Indonesia juga menjajaki kerja sama dengan Jepang dan negara-negara ASEAN. Melalui ASEAN Mangrove Network, Indonesia berperan sebagai pemimpin regional. Jika digabungkan, mangrove di ASEAN mencakup hingga 40 persen dari total mangrove dunia.
“Ini kekuatan besar yang harus kita kelola bersama, dan Kaltara akan terus menjadi pusat pembelajaran yang unik bagi dunia,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







