benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus child grooming atau manipulasi anak di bawah umur melalui pendekatan emosional kini menjadi perhatian serius di tengah masyarakat seiring meningkatnya penggunaan media sosial.
Tidak sedikit kasus terkait grooming belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Di sosial media sendiri, banyak pemberitaan child grooming yang bahkan memakan korban dari kalangan publik figur.
Terkait hal tersebut, Anggota Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalimantan Utara, Rahma Fitrah, M.Psi., Psikolog menjelaskan, child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan secara terencana dengan membangun citra positif di mata korban.
“Child grooming ini kan karena ada yang digarisbawahi adalah manipulasi. Kedekatannya dibangun dengan citra yang positif,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, pelaku tidak menggunakan ancaman pada tahap awal, melainkan menciptakan rasa aman dan nyaman agar korban percaya. Dengan membangun kedekatan emosional inilah yang membuat pelaku atau child groomer dapat melancarkan aksinya.
Setelah ikatan emosional terbentuk, anak mulai menganggap hubungan tersebut sebagai sesuatu yang normal. Pada akhirnya korban tidak menyadari jika pelaku sedang melancarkan hasrat seksual maupun tidakan kriminalitas bahkan eksploitasi anak.
“Si anak sudah menjadi korban akan merasa bahwa relasi atau hubungan romantis itu adalah hal yang normal,” ungkapnya.
Kondisi ini akan membuat korban tidak segan membagikan informasi pribadi kepada child groomer. Informasi-informasi pribadi tersebut yang akan menjadi alat kontrol oleh pelaku terhadap korban.
“Informasi-informasi pribadi ini nantinya akan dijadikan sebagai senjata untuk mengontrol si anak jika si anak mulai berontak atau tidak memenuhi ekspetasi atau fantasi seksual pelaku,” jelasnya.
Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memberikan edukasi kepada anak sejak dini. Apa yang dilakukan groomer terhadap korbannya sangat berpengaruh dan memberikan kontrol yang kuat. Oleh karena itu anak harus diberikan edukasi terkait hal terebut.
“Kalau sudah jadi korban, tidak hanya sekedar motif seksual saja, ada eksploitasi dan kriminal di dalamnya. Jika anak sudah dalam kontrolnya (pelaku), anak akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi si groomer,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







