Persoalan PLN Nunukan Kembali Dipertanyakan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Nunukan kembali menggeruduk Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan pada Selasa, 19 Desember 2023. Hal itu terkait permasalahan kelistirkan yang tak pernah usai, dan kembali dipertanyakan.

Para mahasiswa ini menuntut pihak PLN Nunukan yang dianggap ingar janji terkait beberapa hal yang disampaikan soal penanganan kelistirkan, beberapa waktu lalu. Koordinator Lapangan HMI Nunukan, Andi Baso menyampaikan kedatangan pihaknya di Kantor DPRD Nunukan meminta pihak DPRD Nunukan memfasilitasi pertemuan dengan Bupati Nunukan, pihak PLN dan seluruh anggota DPRD Nunukan.

Pihaknya juga menyampaikan kekecewaan terhadap DPRD Nunukan, yang dianggap tidak mempedulikan aksi mereka. Sebab, selama orasi itu berlangsung mahasiswa hanya disambut aparat kepolisian yang berjaga di depan Gedung DPRD Nunukan.

“Kami datang ke sini untuk bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, tapi di sini kami justru di hadang oleh aparat,” kata Andi Baso dalam orasinya.

Ditegaskannya, pihak Pemerintah Kabupaten Nunukan maupun DPRD Nunukan dianggap seolah tutup mata dan tidak menganggap serius persolan kelistrikan yang terjadi di Kabupaten Nunukan. Sebab, menurutnya persoalan kelistrikan ini bukanlah hal yang baru terjadi di Kabupaten Nunukan. Namun, persoalan ini sudah terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Baca Juga :  Diduga Bakar Sampah, Api Meluas Lahap Lahan 5,8 Hektare di Jalan Pembangunan

“Kami hadir di sini ingin menyampaikan suara masyarakat Nunukan, kita ini adalah pelanggan harusnya mendapatkan pelayanan yang terbaik. Tapi yang kita dapatkan ialah masih sering terjadi pemadaman listrik,” ungkapnya.

Meski sempat ditemui oleh Manager PLN Nunukan dan beberapa anggota DPRD Nunukan yang hadir, namun para demonstran menolak untuk masuk ke dalam Gedung DPRD untuk melakukan RDP dan lebih memilih bertahan menyampaikan tuntutannya di depan gerbang DPRD Nunukan.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Nunukan, Welson menyampaikan para demonstran menuntut agar pelayanan PLN di Nunukan bisa berjalan dengan maksimal.

“Tapi sebenarnya kalau kita bandingkan dengan dua bulan yang lalu, pelayanan PLN sudah lebih baik. Tapi keinginan mereka ini ingin ada solusi jangka panjangnya harus jelas. Agar tidak ada lagi pemadaman listrik,” kata Welson.

Diungkapkannya, pemadaman listrik sejatinya merupakan hal yang normal seperti di kota-kota lainnya. Hanya saja, durasi pemadaman listrik normalnya hanya terjadi beberapa jam saja.

“Tadi kita sudah minta kepada adik-adik kita ini agar bisa masuk ke gedung untuk dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) tapi mereka menolak. Karena mereka ingin kita mengahdirkan Bupati Nunukan dan seluruh anggota DPRD untuk bisa melakukan eksekusi,” ucapnya.

Baca Juga :  Krisis Air Bersih, Pelaku UMKM Ini Terpaksa Menutup Warung Makannya 

Padahal, menurut Welson, anggota DPRD Nunukan sudah sering kali melakukan koordinasi dengan pihak PLN Nunukan untuk mencari solusi.

“Jadi kalau tadi kata mereka anggota DPRD tidak bekerja, menurut saya itu sudah salah sekali,” ungkapnya.

Terpisah, Manager PLN Nunukan, Ferry mengatakan untuk 29 Agustus hingga 12 Oktober ia mengakui kondisi kelistrikan di Nunukan sedang defisit. Sehingga pihaknya melakukan pemadaman listrik terhadap pelanggan umum lantaran adanya gangguan pada PLTD Sei Bilal dan juga tekanan gas di PLTMG Sebaung yang tidak stabil

“Sebenarnya untuk persoalan kelistrikan ini, kita sudah menyiapkan penanganan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang,” kata Ferry.

Dijelaskannya, untuk solusi jangka pendek penambahan 2 pembangkit 2 MW dan juga akselerasi perbaikan mesin pembangkit eksisting sebesar 1 MW di PLTD Sei Bilal untuk memperkuat daya pasok di Sistem Nunukan. Dimaksudkannya, neraca daya dengan estimasi daya mampu 17,6 MW, sedangkan untuk beban puncaknya di kisaran 12,2 MW. Sehingga, masih bisa memiliki surplus cadangan energi listrik sebesar 1 hingga 2 MW.

Baca Juga :  Terindikasi CPMI Non Prosedural, Imigrasi Nunukan Tunda Keberangkatan 2 Calon Penumpang ke Malaysia

“Dengan adanya penambahan mesin ini tentunya membuat kondisi kelistrikan kita lebih baik daripada kondisi yang sebelumnya. Yang jelas saat ini sudah tidak defisit lagi, tapi kalau untuk amannya harus surplus 2 hingga 3 MW,” ujarnya.

Meski masih mengalami kekurangan surplus sekitar 1 MW, namun Ferry mengatakan jika saat ini 1 mesin di PLTMG Sebaung tengah di perbaiki sehingga ia berharap nantinya setalah sudah normal kelistrikan di Nunukan memiliki daya 18 MW dan bisa surplus 3 MW.

Sedangkan untuk solusi jangka menengah, untuk menambah daya  mesin pembangkit di PLTMG Sebaung sebesar 2 x 4 MW. Yang mana, untuk progresnya sendiri, Ferry menyatakan jika pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kondisi lahannya.

“Kemudian untuk solusi jangka panjangnya, kita akan melakukan interkoneksi. Kita berharap sistem kelistrikan di Nunukan bisa segera masuk dalam interkoneksi Kalimantan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Nicky Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *