Nyepi 2023, 4 Larangan bagi Umat Hindu dalam Menyambut Tahun Baru Saka

benuanta.co.id, TARAKAN – Umat Hindu di Tarakan melaksanakan perayaan Nyepi yang jatuh pada 22 Maret 2023. Bagi umat Hindu perayaan ini dikhususkan untuk menyambut Tahun Baru Saka 1945 yang diawali dengan beberapa rentetan kegiatan sebelumnya.

Pada perayaan hari raya Nyepi 2023 terdapat tema diharapkan dapat mewujudkan demokrasi dalam pemilihan umum (pemilu) yang akan berlangsung di 2024 mendatang.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1969 votes

Adapun kegiatan pertama yakni melasti yang artinya pembersihan dan pensucian simbol-simbol Tuhan yang berada di Pura Agung Giri Jagadnatha. Pembersihan dan pensucian simbol Tuhan ini dilakukan di sumber mata air tepatnya di Pantai Amal pada Minggu, 19 Maret 2023 kemarin. Setelah melasti, para umat hindu mempersiapkan sesajen dan juga peralatan untuk sembahyang pada Selasa, 21 Maret 2022 malam di Pura.

Baca Juga :  Tak Bisa Pasang PJU di Depan Landasan, Pemkot Usahakan Cari Jalan Keluar 

Pada malam inti, kegiatan sembahyang yang dilakukan oleh umat Hindu berupa pembersihan alam atau upacara tawur agung kesanga dan mecaru. Dalam upacara ini terdapat persembahan berupa lima ekor ayam dengan simbol mata angin. Umat Hindu percaya bahwa alam ini dijaga oleh makhluk disegala penjuru mata angin.

“Mecaru dan tawur agung ini dilaksanakan satu hari sebelum hari raya Nyepi. Kita lakukan pada sore hari,” ucap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan , I Nengah Pariana..

Setelah upacara di sore hari, rangkaian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama di Pura. Sembahyang ini mengharapkan seluruh makhluk hidup di muka bumi dapat mendapatkan kebahagiaan serta keharmonisan hidup.

I Nengah melanjutkan, persembahyangan ini merupakan tombak dari tahun baru Saka yang akan dimulai pada Rabu, 22 Maret 2023.

Baca Juga :  Momen Lebaran, 13 Ribu Penumpang Padati Pelabuhan Malundung 

“Jadi sebelum kita mulai besok (hari ini) tahun barunya. Malam nya kita membersihkan diri. Tahun baru saka ini juga ada catur brata penyepian,” lanjutnya.

Catur brata penyepian yang dimaksud ialah empat pantangan yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi umat Hindu. Di antaranya amati karya, amati geni, amati lelungan, dan amati lelanguan. Catur brata penyepian ini dilakukan sebagai berikut:

1. Amati Geni
Amati geni adalah pantangan dalam menyalakan api, lampu, dan benda elektronik lainnya selama 24 jam. Ini dilakukan umat Hindu sebagai bentuk simbolis melawan hawa nafsu duniawi.
2. Amati Karya
Amati karya adalah pantangan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan dalam bentuk apapun selama perayaan nyepi berlangsung.
3. Amati Lelungan
Amati lelungan yakni larangan untuk bepergian agar umat Hindu dapat dengan khusuk dan tertib dalam melakukan ibadah.
4. Amati lelanguan
Amati lelanguan yakni larangan bersenang-senang saat perayaan Nyepi. Segala bentuk kesenangan duniawi ditinggalkan sejenak oleh umat Hindu saat melaksanakan ibadah Nyepi.

Baca Juga :  Terdakwa Tipikor Pembangunan Rumah Kuliner Kotaku Dituntut Pidana 2,6 Tahun

“Jadi kita introspeksi diri dari setahun kemarin yang sudah kita laksanakan. Mana yang baik mana yang tidak baik. Tidak baiknya itu yang harus dipikirkan agar tidak terulang di tahun baru saka selanjutnya,” tambah I Nengah.

Pada persembahyangan yang digelar, umat Hindu di Tarakan juga mengharapkan kerukunan antar umat beragama. Kendati umat Hindu di Tarakan terbilang tidak terlalu banyak pihaknya merasa cukup karena hak beragama didapatkan seperti umat beragama lainnya.

“Yang hadir (sembahyang) tidak banyak karena ada yang pulang kampung. Ada yang ke Bali ada yang ke Sulawesi. Jadi yang tinggal sekitar 50 orang. Sebenarnya umat Hindu yang terdata ada 150an,” pungkasnya.(*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *