Pasar Penyebaran Bahan Pokok di Makassar Terbakar

benuanta.co.id, Makassar – Setidaknya ada 24 kios di Pasar Terong, Kota Makassar, Sulawesi Selatan terbakar pada Ahad malam, (5/2/2023). Informasi yang dihimpun kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul, 21.00 Wita, penyebabnya diduga karena korsleting listrik.

Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran Makassar, bahwa proses pemadaman berlangsung sekitar 40 menit. Mengingat lokasi terbakar berada di lantai dua pasar dan kios yang terbakar merupakan penjual barang pecah belah.

“Jumlah kios yang terbakar 24 unit. Armada yang kita terjunkan ada 22 unit dari carester Ujung Tanah, 4 unit dari posko Timur 3 unit, mako Damkar 17 unit, posko metro Tanjung bunga satu unit,” kata Kadis Pemadam Kebakaran Makassar, Hasanuddin.

Kabarnya ketika kebakaran tersebut, api begitu cepat menyebar ke kios lainnya lantaran diketahui pada umumnya menjual barang pecah belah. Api kemudian dapat dijinakkan oleh petugas usai menerjunkan 78 personel damkar ke lokasi.

Setelah petugas berjibaku hampir satu jam, kobaran api pun dapat dipadamkan.
“Penyebab sementara kebakaran arus pendek,” sambung Hasanuddin.

Diketahui, Pasar Terong merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Makassar yang berada di wilayah Kecamatan Bontoala. Pasar ini pun dianggap pusat penyebaran bahan pokok di Kota Daeng.

Di mana pedagang sayur mayur dari berbagai daerah di Sulsel kerap membongkar muatan di Pasar Terong. Pilihan pasar terong karena pembeli sudah ada. Apalagi lokasinya berada di jantung Kota Makassar.

Merujuk dari berbagai sumber, bahwa Pasar Terong berdiri berawal dari aktivitas jual beli pedagang dari berbagai daerah. Awalnya mereka lah yang meramaikan pasar ini sejak lama.

Kalangan pedagang dan penjual inilah yang telah memulai terbentuknya Pasar Terong tetap di tempat mereka berada. Itu juga tidak lepas dari peran para pagandeng (pengangkut sayur), yang memulai cikal bakal Pasar Terong, tetap berada di Pasar Kalimbu dan sepanjang pinggir Jalan Mentimun.

Pasar ini mulai beroperasi sejak tahun 1960-an. Bermula dari lokasi kosong yang berawa-rawa digunakan oleh penjual yang beralaskan tikar serta para pagandeng.

Belakangan pedagang mulai bertambah hingga ke gang-gang permukiman yang kini menjadi Jalan Mentimun, Jalan Kubis, dan Jalan Kangkung.(*)

Penulis: Akbar

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *