Jamaah Diminta Segera Melapor Jika Alami Gejala Kelainan Jantung

Mekkah – Jamaah calon haji Indonesia diimbau untuk segera melapor jika mengalami gejala kelainan jantung agar segera ditangani.

“Penyakit jantung mendominasi kematian jamaah haji di Indonesia hingga hari ke 28 operasional haji tahun ini. Dari 14 kematian, 12 di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung,” kata tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah dr Mohammad Rizki Akbar Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Mekkah, Rabu.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1915 votes

Data menunjukkan sampai Senin (27/6), dari sebanyak 462 jamaah yang menjalani pemeriksaan rawat jalan, 42 orang di antaranya terkait dengan kelainan jantung. Sementara dari total 179 jamaah yang menjalani rawat inap, 13 diantaranya merupakan pasien jantung.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1445 Hijriah pada Rabu 10 April 2024

Dia menjelaskan, setidaknya terdapat tiga jenis kelainan jantung yang dialami oleh jamaah yang dirawat di KKHI Makkah, baik yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap.

“Kelompok pertama yang paling banyak masuk kepada kelompok gagal jantung,” kata Rizki.

Pada kelompok ini keluhan yang sering muncul adalah sesak nafas. Selain itu juga mudah lelah saat beraktivitas, atau biasanya ditandai dengan adanya bengkak di tungkai kaki.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1445 Hijriah pada Rabu 10 April 2024

“Biasanya terjadi karena minum obat tidak teratur, atau aktivitas ibadah (fisik) yang terlalu berat,” tambah dia.

Kelompok kedua adalah pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada. Hal ini terjadi, dimungkinkan karena adanya penyempitan pembuluh darah di jantung.

Sementara kelompok ketiga adalah pasien yang datang dengan keluhan berdebar. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada irama jantung.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1445 Hijriah pada Rabu 10 April 2024

Dia menyarankan setiap merasakan keluhan, jamaah yang memiliki faktor risiko jantung harus segera menyampaikan kepada petugas kesehatan di kloter, baik kepada dokter maupun perawat, sehingga segera dapat dilakukan evaluasi terhadap kondisi jamaah dan diputuskan tindakan yang dibutuhkan jamaah.

“Sehingga mereka bisa langsung lakukan evaluasi apakah ini terkait dengan perburukan kondisi atau tidak. Dengan demikian kita bisa melakukan pelayanan dan pengobatan di KKHI,” kata Rizki.***

 

Sumber : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *