benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Atensi bahaya stunting, Bunda PAUD Kabupaten Tana Tidung (KTT) Vamelia Ibrahim dorong percepatan penanganan stunting di PAUD melalui tiga program prioritas yaitu Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Satu Desa Satu PAUD, dan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).
Stunting merupakan penyakit kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, penyakit ini biasanya lebih rentan terkena anak di bawah umur 5 tahun (Balita).
Lebih rentannya anak balita untuk terkena penyakit ini pun, dikhawatirkan Vamelia dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.
“Jadi, stunting ini memang penyakit yang tidak bisa kita anggap enteng, mungkin dampak jangka pendeknya tidak terasa. Tapi dampak panjang dari penyakit ini bisa sangat terasa, karena menganggu pertumbuhan anak,” kata Vamelia, Sabtu 28 Mei 2022.
Selain melalui 3 program prioritas di atas, Vamelia menjelaskan ada juga cara lain yang dapat digunakan dalam mencegah terjadinya penyakit stunting ini, salah satunya ialah memperhatikan makanan anak, pola makan anak serta lingkungan anak bermain.
“Penanganan stunting dilakukan melalui pola asuh, pola makan, dan perbaikan sanitasi serta akses air bersih. Melalui Kelas Orang Tua pada program UKS ini terjadi kolaborasi orang tua dalam menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat, ” jelasnya.
Selanjutnya ia mendorong semua anak terlayani di PAUD melalui program Satu Desa Satu PAUD. Kalau semua anak masuk PAUD, maka layanan esensial dapat disediakan di satuan PAUD oleh instansi terkait. Tidak hanya pendidikan, tetapi juga kesehatan, gizi, dan perawatan, pengasuhan, perlindungan, serta kesejahteraan.
“Seperti deteksi dini tumbuh kembang (DDTK), perawatan gigi, dan imunisasi dilakukan Dinas Kesehatan, pemenuhan gizi bagi anak stunting oleh Dinas Sosial, pembuatan KIA oleh Disdukcapil, dan yang lainnya dilakukan di PAUD ini,” terangnya.
Menurut istri dari orang nomor satu di KTT itu, saat ini masih banyak masyarakat yang keliru memaknai stunting sebagai faktor keturunan atau genetik tanpa melakukan upaya pencegahan. Padahal faktor genetika paling kecil pengaruhnya dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
“Saya mengajak kepada kita semua untuk menerapkan hasil sosialisasi ini. Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan sosialisasi pengolahan ikan. Lalu saya praktikkan di rumah. Anak-anak jadi senang makan ikan,” pungkasnya.(*)
Reporter: Osarade
Editor: Ramli







