benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Memiliki potensi beras hasil produksi petani lokal yang cukup produktif, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Tidung berencana mengembangkan hasil pertanian untuk bisa dikomersialkan ke pasar luas.
Beras lokal Kabupaten Tana Tidung ini rencananya akan dikemas berbagai bentuk sesuai kebutuhan masyarakat dengan logo Pemkab Tana Tidung.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Tana Tidung, Rico Aldianto mengatakan beras lokal Tana Tidung sebenarnya sudah mulai dipasarkan, namun baru sebatas lokal area KTT saja.
“Kemasannya ada yang 1 kilogram 5 Kg dan 10 Kg. Tapi karena masih tahap perkenalan jadi kita pasarkan kelingkungan ASN dulu dan sebagian kecilnya kemasyarakat,” kata Rico, Rabu (16/3/2022).
Beras lokal Tana Tidung ini dijual seharga Rp 14 ribu per kilogram. Harga ini pun dinilai cukup bersaing dengan beras-beras luar daerah yang selama ini menjadi konsumsi masyarakat KTT.
“Harganya memang cukup bersaing, namun karena masih tahap pengenalan jadi produksinya tidak bisa banyak. Namun kita harap beras lokal ini nantinya bisa memiliki pasar yang luas,” ujarnya.
Rico menjelaskan, kelebihan dari beras lokal KTT ini ada pada diproduksi secara alami tanpa bahan pengawet, sehingga menjadi lebih sehat jika dikonsumsi. Melalui kelebihan-kelebihan tersebut diharapkan beras lokal nantinya dapat dipasarkan hingga keluar daerah
“Semoga nanti masyarakat KTT dan masyarakat di luar KTT bisa menjadi langganan dari beras lokal ini. Apalagi beras ini memiliki cita rasa yang beda dengan beras lainnya, yang diproduksi dengan campuran bahan pengawet,” tandasnya.
Di sisi lain Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali sangat mendukung adanya pemasaran beras lokal tersebut. Selain karena Bumi Upun Taka, sebutan lain Kabupaten Tana Tidung ini bisa menjadi daerah mandiri akan kebutuhan pangan. Adanya beras lokal ini juga dapat mensejaterahkan para petani lokal.
“Kalau ke depan petani kita dapat memproduksinya secara besar maka hal ini akan berdampak langsung ke ekonomi petani kita, karena merka telah memiliki pasar jualnya sendiri,” ujar Ibrahim Ali.
“Makanya lahan pertanian terus kita genjot, agar pertahian kita dapat menjadi lahan yang produktif daj menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakatnya,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa







