benuanta.co.id, TARAKAN – Ketersediaan hewan ternak seperti sapi terancam menipis di Kota Tarakan. Hal ini merupakan imbas dari peraturan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMK melalui Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2022 tentang pengendalian lalu lintas hewan rentan PMK hingga produk hewan rentan PMK berbasis kewilayahan.
Sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo pernah sepakat melakukan kerja sama untuk penyediaan sapi bagi warga Bumi Paguntaka. Namun kerja sama itu tersendat sejak Oktober 2022 lalu.
Kepala Dinas Peternakan Pertanian dan Tanaman Pangan (Disnaktangan), Elang Buana, juga tak ingin menganggap remeh persoalan ini. Sebab ia khawatir akan terjadi peredaran sapi illegal di Kota Tarakan maupun Kaltara karena terdesaknya kebutuhan daging sapi untuk masyarakat, terlebih pada momen akhir tahun 2022 juga dibarengi dengan hari besar keagamaan Natal.
“Kami sudah berusaha, sebetulnya ini antara Pemprov Kaltara dan Gorontalo yang belum menentukan keputusan akhir. Karena prinsipnya Tarakan ini sudah siap menerima ternak dari Gorontalo, karena kami yakin dari Gorontalo masih bebas dari PMK,” ucapnya Selasa (22/11/2022).

Lebih lanjut, menurut Elang Buana saat ini Kota Tarakan masih berstatus zona hijau dari PMK meskipun Gorontalo sudah dinyatakan zona kuning.
“Hanya saja, Gorontalo kuning dikarenakan daerah sekitar Gorontalo sudah terkonfirmasi maka dari itu sebagai wilayah satu daratan, Gorontalo masuk ke dalam zona kuning. Dan sebetulnya kami siap. Tapi yang kami inginkan yakni tentang bagaimana Pemprov Kaltara menyikapi. Karena yang penting itu bebas dari PMK,” jelasnya.
Adapun rencananya Elang akan berangkat ke Jakarta bersama dengan Kepala Dinas Peternakan Gorontalo Utara pada pekan depan.
“Namun sebelumnya kami perlu meminta izin dulu kepada pak Wali Kota Tarakan. Tentunya pertemuan kami akan bertemu Dirjen Peternakan dan Badan Karantina soal sapi. Sebab kami khawatir kalau tidak ada sapi, maka kemungkinan besar akan ada sapi ilegal yang justru berasal dari daerah yang terkonfirmasi PMK, serta kami takut ada sapi produktif yang dipotong,” ungkapnya.
Kemudian soal tinjauan ke lapangan, Elang menegaskan rutin menggelar vaksinasi hewan. “Meskipun belum ditemukan kasus PMK, namun vaksinasi dan uji lab daging tetap dilakukan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Yogi Wibawa







