benuanta.co.id, TARAKAN – Pemancing yang diduga hilang di Perairan Bunyu, Kabupaten Bulungan saat memancing sejak Sabtu, 14 Oktober 2023 sore lalu, ditemukan dalam keadaan meninggal.
Korban berinisial H warga Juata Laut ditemukan dengan radius 16,36 nautical mile dari Last Know Position (LKP) pada Senin, 16 Oktober 2023 sekira pukul 14.45 WITA.
Saat dikonfirmasi, Kepala Basarnas Tarakan, Syahril mengatakan jasad korban ditemukan oleh Tim SAR gabungan. Penemuan korban juga masih berada di sekitar perairan Bunyu.
“Kalau dari hasil temuan tadi ya diperkirakan memang tenggelam,” katanya saat dihubungi, Senin (16/10/2023).
Ia melanjutkan, korban ditemukan dalam kondisi terlentang dan mengapung. Meski sebelumnya, terdapat kendala bahwa titik koordinat diduga hilangnya korban yang belum pasti.
Menurutnya hal itu mampu diatasi lantaran pihaknya berhasil menemukan korban di hari kedua pencarian. Titik penemuan korban juga sempat disisir oleh Tim SAR gabungan, kemarin.
“Kita juga ada yang namanya titik duga. Makanya kita tarik dari situ didapatlah jarak dia ditemukan dari diduga jatuhnya korban. Tadi jasadnya masih dalam kondisi utuh,” lanjutnya.
Setelah ditemukan, korbanpun langsung dievakuasi menuju rumah duka di Kelurahan Juata Laut. Lantaran permintaan dari keluarga korban.
Lebih jauh dijelaskannya, dalam pencarian hari kedua ini pihaknya masih menggunakan sarana dan unsur personel di hari pertama. Unsur yang terlibat dalam Tim SAR gabungan, di antaranya Basarnas Tarakan, Pos TNI AL Juata Laut Tarakan, Polairud Polda Kaltara, Polair Polres Tarakan, nelayan, keluarga dan masyarakat sekitar.
“Pencarian sudah selesai dan langsung ditutup pada pukul 15.00 WITA,” sebut dia.
Diketahui, keseharian korban memang nelayan. Seringnya kejadian nelayan pergi melaut dan menghilang pihaknya mengimbau untuk selalu memperhatikan keselamatan dalam melaut. Seperti memperhatikan himbauan cuaca dan alat keselamatan.
“Kita juga tidak mengetahui saat itu apakah karena cuaca atau tidak. Karena tidak ada saksi juga,” tambah Syahril.
Syahril menegaskan frekuensi kejadian ini cukup sering. Ia menilai, kemungkinan nelayan tak terlalu memperhatikan aspek keselamatan. Namun, saat kejadian tak diinginkan terjadi ia menyarankan dapat menggunakan barang yang mudah mengapung seperti jeriken.
“Paling kita selalu ingatkan mereka untuk selalu membawa alat keselamatan. Seperti pelampung. Ya saya juga berpikir mungkin nelayan berpikir membeli itu agak mahal padahal itu penting,” pungkasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Nicky Saputra







