benuanta.co.id, TARAKAN – Salah satu efek penyumbang perekonomian tersendat hingga terjadi inflasi di Provinsi Kaltara yakni pada sektor penerbangan karena harga tiket pesawat mahal.
Namun Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (BI Kaltara), Tedy Arief Budiman optimis dengan adanya variasi penerbangan ke Tarakan hal tersebut akan perlahan menekan inflasi.
“Maka masyarakat menjadi banyak pilihan dan harga tereduksi,” ucapnya Senin (21/11/2022).
Lebih lanjut, sebagai contoh kata Tedy tiket pesawat Tarakan-Balikpapan sebelumnya menyentuh harga Rp 1 juta lebih.
“Sekarang mencapai Rp 800 di bawah Rp 1 juta. Tentunya kami berharap inflasi angkutan udara dapat tertekan jadi tidak lagi menjadi suatu pencetus inflasi ke depan harapannya demikian,” ungkapnya.
Sebab menurutnya cara menekan inflasi agar tetap stabil diprediksi tidak hanya berpacu dengan angka tetapi bagaimana pergerakan ekonomi bisa tumbuh.
“Angkanya kalau yang kemarin di tahun 2022 menyebutkan 3 plus 1 persen. Tapi rasanya dengan kondisi geopolitik, kemudian juga dengan pemulihan ekonomi di semua negara tampaknya melampaui 3 plus minus 1,” ujarnya.
Harapan Tedy, pergerakan inflasi di Provinsi Kaltara tetap stabil dan tidak terjadi naik turun. “Itu yang kami sebut penjaga flet. Karena ini mempengaruhi ekspetasi baik masyarakat umum maupun ekspor impor. Nah kalau ini yang terjaga nilainya 4 tapi tidak terlalu 4 lalu 6 lalu 3 itu terlalu fluktuasi. Kami inginnya terjaga itu diangka tertentu pergerakan yang landai,” tuturnya.
Kemudian di bulan Desember mendatang untuk menjaga supaya efek inflasi tidak tinggi, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tidak panic buying.
“Artinya belanja bijak belanja sesuai kebutuhan karena memang ini akan sangat berpengaruh psikologi masyarakat. Kalau misalnya pembeliannya berlebihan tentunya ada masyarakat akan khawatir akan kekurangan sehingga ada panic buying ini yang kami hindari,” bebernya.
Menghadapi persoalan tersebut pihaknya telah bekerja sama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan akan melakukan sosialisasi belanja bijak.
“Untuk menekan kenaikannya itu agar tidak terlalu drastis walaupun ada kenaikan karena suatu hari Raya itu sesuatu yang wajar. Tapi harapannya tidak fluktuasi yang terlalu tinggi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Yogi Wibawa







