benuanta.co.id, BULUNGAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) gelar kegiatan Green Economy Webinar Series 2022 Seri Ke-2, bertemakan prospek dan tantangan pengembangan proyek-proyek dan pendanaan inovatif hijau di Kaltara untuk ekonomi yang berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara Tedy Arief Budiman mengatakan Green Economy Webinar Series 2022 Seri Ke-2 merupakan wujud komitmen dan mendukung pembangunan atau pengembangan ekonomi hijau di Kaltara serta upaya menggaungkan Presidensi G20 Indonesia 2022.
“Salah satu isu utamanya melakukan pengembangan Sustainability Finance melalui jalur keuangan,” ujar Tedy Arief Budiman kepada benuanta.co.id, Rabu 10 Agustus 2022.
Dia menjelaskan berdasarkan data World Meteorology Organization milik PBB yang fokus pada pengembangan cuaca dan iklim serta pemantauan emisi rumah kaca global dalam kajiannya menjelaskan dalam 5 tahun ke depan terdapat ruang sebesar 50 persen terhadap kenaikan rata-rata suhu global mencapai 1,5 derajat celsius dan peluang itu semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian kita bersama mengingat Indonesia termasuk salah satu negara yang berkomitmen terhadap Paris Agreement yaitu menahan laju temperatur global yaitu dibawah 2 derajat celsius,” paparnya.
Kata dia, ini dilakukan melalui upaya pengurangan laju emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 sebesar 29 derajat dengan biaya sendiri dan dapat ditingkatkan menjadi 41 persen bila dilakukan kerjasama internasional.
Salah satu upaya yang signifikan dari Indonesia untuk mewujudkan hal tersebut yakni melalui transisi energi dan energi fosil menjadi energi terbarukan yang disebut Green Energy.
“Proses tersebut lagi akselerasi termasuk di Kaltara dengan pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Tanah Kuning Mangkupadi, ini nantinya di proyeksikan akan menjadi kawasan industri hijau terbesar di dunia dengan luas area mencapai 30 ribu hektare, sebagai tonggak awal transpormasi ekonomi Indonesia. Sebagaimana yang diamanatkan Presiden Jokowi saat groundbreaking pada Desember 2021 lalu,” tuturnya.
Di Kaltara pembangunan KIHI menjadi batu loncatan dalam upaya mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Kata dia, pertumbuhan ekonomi yang mayoritas mengandalkan ekstraksi dari alam seringkali mengenyampingkan aspek dampak kerusakan lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca.
“Padahal keduanya bisa berdampak terhadap peningkatan polusi udara, bencana banjir dan kekeringan serta hilangnya akses sumber daya produksi,” ucap Tedy.
Perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca tersebut saat ini diyakini mengakibatkan gangguan produksi bahan pangan, sehingga memicu terjadinya peningkatan inflasi dan krisis pangan.
“Oleh karena itu, baik peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat tidak boleh berfokus pada seberapa besar pertumbuhan, tapi bagaimana strategi dan mengurangi dampak aktivitas ekonomi tersebut terhadap lingkungan,” jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi Kaltara pada triwulan kedua 2022 tumbuh 4,91 persen secara Y or Y lebih tinggi capaiannya daripada triwulan satu sebesar 4,58 persen. Mayoritas disumbangkan oleh pertumbuhan lapangan usaha pertambangan sebesar 29,73 persen khususnya komoditas batubara meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya hanya 27,91 persen.
“Risiko yang akan dihadapi Kaltara apabila tidak segera beradaptasi dan mengikuti trend ekonomi hijau tersebut antara lain pertama hambatan ekspor untuk produk yang belum menerapkan standar hijau serta pajak karbon dari negara pengimpor,” sebutnya.
Risiko selanjutnya investasi industri rendah karbon akan beralih ke daerah lain yang lebih dahulu mengimplementasikan kebijakan rendah karbon. Ketiga referensi pembiayaan akan bergerak di sektor ramah lingkungan
“Berdasarkan assessment kami, Kaltara memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan Green Economy, salah satu potensi dan modal besar yang dapat dikembangkan oleh Kaltara untuk ekonomi hijau adalah kawasan hutan, luasannya mencapai 79,5 persen dari luas wilayah atau sekitar 5,5 juta hektare,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Ramli







