Penerbangan Pasca PPKM Pengaruhi Inflasi Tarakan dan Bulungan

benuanta.co.id, TARAKAN – Tarakan dan Bulungan mengalami kenaikan inflasi pada November 2021 kemarin. Tercatat, Tarakan mengalami inflasi sebesar 1,06 persen dan Tanjung Selor sebesar 0,17 persen.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara (Kaltara), Tedy Arif Budiman peningkatan inflasi ini dikarenakan kelompok transportasi yang mengalami tekanan sebesar 3,91 persen.

“Kelompok transportasi ini terutama disebabkan oleh peningkatan demand terhadap komoditas angkutan udara pasca dilonggarkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),” ujar Tedy Arif Budiman, Rabu (8/12/2021).

Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Provinsi Kaltara periode November 2021 sebesar 1,85% (yoy) atau masih berada di bawah kisaran sasaran inflasi 3,0% ±1% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi pada kelompok transportasi di Kaltara sejalan dengan peningkatan indeks Google Mobility Report (GMR) bulan November ini.

Baca Juga :  Kelompok Tani Sawitto Nunukan Panen Perdana Program Ayam Petelur dari APBN

“Indeks GMR yang meningkatkan mencerminkan terjadinya peningkatan mobilitas masyarakat termasuk dari pergerakan masyarakat menggunakan moda transportasi udara,” sambungnya.

Kondisi ini diyakini mendorong kenaikan tarif angkutan udara di tengah terbatasnya supply armada dan maskapai yang beroperasi. Dengan demikian, secara bulanan dan tahunan, kelompok transportasi memberikan andil inflasi 0,47% (mtm) dan 0,16% (yoy).

Sejalan dengan kelompok transportasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami inflasi di tengah tingginya permintaan masyarakat pada November 2021. Tiga komoditas itu turut memberikan andil inflasi bulanan.

“Yang mengalami inflasi antara lain daging ayam, minyak goreng, ikan bandeng, ikan layang, tomat dan bawang merah,” katanya.

Baca Juga :  Pertamina Jelaskan ATM di SPBU Bergantung Kebutuhan dan Skema NFR

Adapun inflasi daging ayam ras sebesar 0,27 persen, minyak goreng 0,05 persen, ikan bandeng 0,03 persen, dan ikan layang 0,03 persen. Sementara itu komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan (mtm) terbesar yaitu tomat 0,03 persen, bawang merah 0,02 persen.

Terjadinya inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dipicu oleh cuaca yang kurang mendukung sepanjang bulan November. Hal ini berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan nelayan. Selain itu, kelangkaan minyak goreng secara nasional juga menjadi penyebab kenaikan tekanan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Secara bulanan dan tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi dengan andil sebesar 0,35% (mtm) dan 1,31% (yoy),” terangnya.

Baca Juga :  Telkomsel Hadirkan Hyper 5G di Tarakan dan Tanjung Redeb

Melihat ini, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus diperkuat. Salah satu upaya penguatan koordinasi dengan penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) TPID yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, serta kota di Kaltara.

“Hal ini diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah strategis dalam menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi khususnya menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru 2022, serta persiapan kenaikan cukai rokok pada 2022 mendatang,” pungkasnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *