benuanta.co.id, TARAKAN– Kenaikan harga plastik dan bahan kemasan di Kota Tarakan kian menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lonjakan yang terjadi sejak pertengahan Ramadan hingga pasca Lebaran ini disebut sebagai yang paling tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu pelaku UMKM Tarakan, Rika Pratiwi mengungkapkan, kenaikan paling signifikan terjadi pada kemasan plastik, yang berdampak langsung pada biaya operasional usahanya.
Ia yang memproduksi bumbu acar berbahan nanas Lungai Maya serta berbagai olahan perikanan khas daerah, mengaku harus menghitung ulang seluruh biaya produksi.
Ia menyebut, harga kemasan amplang yang sebelumnya sekitar Rp7.000 per kemasan kini melonjak hingga Rp14.000 atau naik hampir dua kali lipat.
“Teman-teman pelaku usaha ini lagi putar otak. Gimana caranya mengurangi isi dari kemasan tersebut,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Selain itu, biaya operasional plastik juga meningkat drastis. Dalam satu bulan, pengeluaran plastik yang sebelumnya sekitar Rp770 ribu kini mencapai Rp1,8 juta. Bahkan dalam sehari biaya operasional khusus plastik sudah mencapai Rp1.800.000 padahal sebelumnya hanya Rp770.000.
Kenaikan juga terjadi pada kebutuhan gelas plastik untuk minuman. Dari sebelumnya sekitar Rp835 ribu per bulan, kini naik menjadi Rp1,1 juta. Bahkan harga satu pak gelas yang sebelumnya sekitar Rp13 ribu kini mencapai Rp18 ribu.
“Kalau dibilang untung atau tidak, jelas ini merugikan pelaku UMKM,” tegasnya.
Menurutnya, kenaikan harga plastik mulai terasa sejak Ramadan, namun mencapai puncaknya setelah Lebaran dengan kenaikan hingga 75 persen. Kondisi ini menjadi yang tertinggi selama dirinya menjalankan usaha selama 11 tahun.
Dampak dari kenaikan tersebut membuat pelaku usaha tidak punya banyak pilihan. Sebagian besar memilih tidak menaikkan harga jual, tetapi mengurangi isi produk atau mencari alternatif kemasan yang lebih murah dan lebih tipis.
“Yang penting kualitas tetap dijaga, tapi memang ada yang mengurangi porsi atau cari kemasan yang lebih tipis,” jelasnya.
Ia menegaskan, kemasan menjadi komponen penting yang tidak bisa dihindari dalam usaha makanan dan minuman. “Kalau bahan baku masih bisa kita siasati, tapi kalau kemasan ini susah. Tidak mungkin kita jual tanpa kemasan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Toko Kemasan KA, Jery membenarkan adanya kenaikan signifikan pada berbagai jenis plastik. Ia menyebutkan kenaikan bahkan mencapai lebih dari 50 persen untuk beberapa item, seperti plastik kiloan, gelas plastik, hingga plastik es.
Menurutnya, kenaikan terjadi bertahap sejak pertengahan Ramadan dan terus berlanjut hingga saat ini. “Kalau dibilang naik, ini bukan sekadar naik, tapi terbang tinggi. Bisa sampai 50 persen bahkan lebih,” terangnya.
Ia menjelaskan, kenaikan ini dipicu oleh keterbatasan bahan baku dari luar daerah seperti Surabaya dan Jakarta, serta meningkatnya biaya pengiriman.
Selain itu, stok barang juga mulai langka. Dari sekitar 80 jenis produk yang dijual, hampir 40 hingga 50 item mengalami kekosongan. “Jadi kita hanya jual yang ada saja sekarang, karena banyak item yang kosong,” ungkapnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku UMKM yang menjadi pelanggan utama. Banyak yang terpaksa mengurangi jumlah pembelian atau menyesuaikan produksi.
Ia juga memperkirakan kenaikan harga plastik masih berpotensi terus terjadi karena pasokan bahan baku yang belum stabil.
“Informasi yang kami dapat, masih ada kemungkinan harga naik lagi,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







