NTP Petani Kaltara Naik Tipis pada Agustus 2025

benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2025 berada di angka 114,90. Angka ini naik tipis 0,03 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 114,86.

Kepala BPS Kaltara, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang naik 0,27 persen. Persentase ini lebih tinggi dibanding indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya meningkat 0,24 persen.

Baca Juga :  Wujudkan Hunian Impian dengan MLT BPJS Ketenagakerjaan

“Artinya, harga produk pertanian yang dijual petani naik lebih cepat dibanding pengeluaran mereka untuk konsumsi maupun biaya produksi,” ujarnya, Senin (22/9/2025).

Jika dirinci, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat menjadi penopang utama dengan NTP mencapai 198,65 atau naik 1,61 persen. Sementara itu, empat subsektor lainnya justru melemah, yakni Tanaman Pangan turun 0,29 persen, Hortikultura turun 1,43 persen, Peternakan turun 0,21 persen, dan Perikanan turun 0,43 persen.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok di Pasar Induk Tanjung Selor Merangkak Naik, Telur Tembus Rp70 Ribu

“Perkebunan seperti kelapa sawit dan kakao masih menjadi tulang punggung petani Kaltara. Tetapi sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan mengalami tekanan harga sehingga perlu perhatian lebih,” katanya.

Secara nasional, Kaltara termasuk dalam 26 provinsi yang mencatat kenaikan NTP pada Agustus 2025. Kenaikan tertinggi terjadi di Bengkulu sebesar 3,89 persen, sedangkan penurunan terdalam dialami Bali dengan minus 2,69 persen.

Mas’ud menegaskan, NTP merupakan indikator penting untuk menilai kesejahteraan petani. Dengan capaian 114,90, posisi petani Kaltara dinilai masih lebih baik dibandingkan tahun dasar 2018.

Baca Juga :  PT Pelindo Terminal Petikemas Tarakan Gelar Program Ramadhan Berbagi 2026

Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait harga input produksi yang fluktuatif serta akses pasar hasil panen. “Petani kita masih perlu didorong dari sisi efisiensi produksi dan akses pemasaran, agar peningkatan daya beli bisa lebih merata, tidak hanya bergantung pada subsektor perkebunan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *