benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, perempuan yang bekerja di Kalimantan Utara didominasi lulusan pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.
Kepala BPS Kalimantan Utara Mas’ud Rifai, menjelaskan dalam profil angkatan kerja perempuan, terlihat distribusi tingkat pendidikan terbanyak adalah perempuan dengan tingkat SD ke bawah sebesar 34,36 persen.
“Faktor ekonomi biasanya yang melandasi seseorang untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” katanya, Senin (15/7/2024).
“Masih banyaknya pekerja perempuan yang berpendidikan rendah berimplikasi pada kedudukan, status, jenis, dan tingkat pekerjaan yang terbatas untuk dipilih, sehingga mempengaruhi perekonomian seseorang atau keluarga,” katanya lagi.
Namun, di provinsi Kalimantan Utara pekerja perempuan dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi sudah mulai meningkat. Hal ini menunjukkan kualitas sumber daya manusia (SDM) mulai membaik.
“Daerah perdesaan menunjukkan bahwa 50,04 persen perempuan yang bekerja berpendidikan SD ke bawah,” sebut Mas’ud.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya yaitu infrastruktur yang terbatas, akses ke fasilitas pendidikan belum memadai, dan juga faktor ekonomi keluarga.
Daerah perdesaan, khususnya di provinsi Kalimantan Utara dengan kondisi geografisnya, membuat para warga sulit untuk mengakses fasilitas pendidikan yang lebih baik. Sehingga kondisi ini membuat pendidikan di daerah perdesaan menjadi rendah.
Selain itu, pekerjaan di perdesaan yang sebagian besar tidak terlalu menuntut tingkat pendidikan yang tinggi menjadi penyebab seseorang tidak melanjutkan pendidikan dan langsung masuk ke dunia kerja.
“Kalau untuk daerah perkotaan menunjukkan hal yang lebih baik. Perempuan yang bekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah sudah berkurang, sedangkan pekerja perempuan dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi sudah meningkat,” ungkapnya.
Dimana pada daerah perkotaan tingkat pendidikan perempuan bekerja paling banyak pada tingkat SMA/SMK dengan 34,24 persen. Banyaknya jenis pekerjaan di daerah perkotaan dan juga tuntutan akan status sosial dan ekonomi membuat para pekerja dituntut untuk memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
“Ketidakmerataan dan rendahnya pencapaian pendidikan bagi masyarakat di masa lalu khususnya di perdesaan masih membawa dampak dan permasalahan di masyarakat,” tutur Mas’ud.
Komposisi umur dari pekerja perempuan yang berpendidikan SD ke bawah, sebagian besar adalah pekerja berusia di atas 35 tahun. Tingginya persentase ini menggambarkan kondisi pendidikan di masa lampau.
Persentase lulusan SD pada pekerja perempuan usia muda cukup rendah. Pada rentang umur 15-19 tahun berkisar 2,76 persen, 20-24 tahun berkisar 3,66 persen, dan 25-29 tahun berkisar 6,13 persen. Rendahnya persentase ini mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan para pekerja perempuan semakin baik. Meningkatnya tingkat pendidikan ini, tentunya membuat SDM pekerja perempuan semakin baik dan memiliki pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang.
“Sebagaimana yang kita diketahui, pendidikan merupakan salah satu faktor dan modal untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan sesuai dengan bidang keahlian seseorang,” katanya.
Menurut hasil penelitian, menunjukkan bahwa dampak pendidikan meningkatkan penghasilan dan pekerja overeducated berpengaruh signifikan terhadap penghasilan pekerja meskipun telah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, jam kerja serta karakteristik individu lainnya.(*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli







