benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) pada tahun 2021, kondisi perekonomian di Kaltara mengalami pertumbuhan sebesar 3,98 persen dibandingkan tahun 2020.
Sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Kaltara di antaranya adalah Pertambangan dan Penggalian (26,70 persen), Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (16,34 persen), Konstruksi (13,68 persen), Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (12,52 persen), dan Industri Pengolahan (8,97 persen). Sektor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar dari 17 sektor lainnya.
“Sektor ini termasuk sektor yang mampu tumbuh mencapai 2,50 persen seiring dengan situasi pandemi COVID-19 yang mulai membaik. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Provinsi Kaltara mampu mengatasi masalah perekonomian,” ucap Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai, Senin (8/1/2024).
Industri pengolahan memberikan multiplier effect terhadap lapangan usaha lainnya terutama dalam menyediakan kebutuhan bahan baku maupun barang jadi dan sebagai konsumen untuk lapangan usaha lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan uraian mengenai keadaan lapangan usaha industri pengolahan agar dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah maupun stakeholder.
Adapun Industri manufaktur sebut Mas’ud sapaannya, yang berskala besar dan sedang di Kaltara terdiri industri makanan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI 10), industri kayu (KBLI 16), industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18), industri barang galian bukan logam (KBLI 23), dan industri alat angkut lainnya (KBLI 30).
Perusahaan industri manufaktur besar dan sedang berjumlah 32 perusahaan. Industri di Kaltara ini didominasi oleh perusahaan industri makanan sebesar 75 persen dari total perusahaan atau sebesar 24 perusahaan.
Tak hanya itu, sejalan dengan jumlah perusahaan industri makanan yang paling tinggi, jumlah tenaga kerja pada industri tersebut pun paling tinggi yaitu mencapai 12.422 tenaga kerja.
Sedangkan jumlah tenaga kerja terkecil berada di industri barang galian bukan logam sebesar 54 pekerja. Tenaga kerja ini terdiri dari tenaga kerja produksi, tenaga kerja lainnya, dan tenaga kerja tidak dibayar.
“Tenaga kerja paling banyak berada di kelompok tenaga kerja produksi yang mencapai 12.848 pekerja, disusul tenaga kerja lainnya sebanyak 3.502pekerja, dan tenaga kerja tidak dibayar sebanyak 1 pekerja,” pungkasnya.(*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli







