benuanta.co.id, BULUNGAN – Salah satu calon penumpang maskapai Wings Air yang melayani rute Tanjung Selor ke Balikpapan, merasakan kecewa yang luar biasa. Pasalnya, tidak jadi berangkat ke kampung halamannya, di Magelang Provinsi Jawa Tengah dikarenakan mendapatkan pembatalan penerbangan.
Namanya Tarmin, yang bekerja sebagai buruh di Desa Tanjung Agung Kecamatan Tanjung Palas Timur. Saat tiba di Bandara Tanjung Harapan, dirinya mendapatkan informasi jika pesawat yang akan ditumpanginya tidak jadi datang dari Balikpapan.
“Saya berangkat dari Tanjung Agung itu jam 7 pagi sampai di sini jam 9, karena jam 10.45 sudah berangkat. Tapi ternyata di cancel, tanpa ada pemberitahuan baik telepon ataupun SMS,” ucap Tarmin kepada benuanta.co.id, Jumat 19 Agustus 2022.
Tarmin menyebutkan, jika dirinya tidak punya keluarga di Bulungan, pasalnya ia hanya merantau mencari kerja di Bulungan. Karena sudah rindu kampung halaman dan tidak ada perhatian dari majikannya di Tanjung Agung, akhirnya memilih untuk pulang kampung dengan hanya mengantongi uang perjalanan yang tidak banyak.
“Minimal ada pemberitahuan jadi tidak terlantar seperti ini. Uang saya pegang hanya ada Rp 200 untuk perjalanan dari Surabaya ke Magelang,” tuturnya.
Pembatalan keberangkatan inipun membuatnya bingung, pasalnya di dalam Bandara itu tidak ada yang dapat dimintai keterangan. Saat ditunjukkan oleh petugas Bandara ke loket milik Wings Air pun tidak ada petugasnya.
“Orang bandara hanya tunjukkan tapi tidak tahu yang mana petugas dari Wings Air juga tidak ada. Saya pun tidak ada kenal di sini,” bebernya.
Lembaran tiket yang dipegangnya pun bukan dirinya yang membeli, namun dibelikan oleh salah satu warga Desa Tanjung Agung lewat online. Agar tiket itu tetap dapat digunakan, maka sejak pagi sudah berangkat dari Kecamatan Tanjung Palas Timur menuju ke Tanjung Selor.
“Yang saya takutkan kalau terlambat maka tiketnya hangus. Ternyata setelah di sini saya ditelantarkan, inipun hanya diberikan air mineral sama roti dan disuruh istirahat di musola dulu,” paparnya.
“Kalau dicancel pun, besok harus berangkat. Saya pakai apa untuk makan di Tanjung Selor, sedangkan uang yang saya pegang untuk perjalanan saya ke Magelang,” tambahnya.
Tarmin mengatakan, di Tanjung Agung hanya tinggal sendirian, siapa saja yang punya kerjaan maka dirinya meminta untuk ikut bekerja.
“Karena sudah tidak tahan bekerja sama bos saya, maka saya putuskan pulang kampung. Di Tanjung Agung itu sudah ada 8 bulan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Matthew Gregori Nusa







