Rumput Laut Kian Berpotensi, DKP Kaltara Upayakan Jaga Kuantitas dan Kualitas

benuanta.co.id, BULUNGAN – Salah satu potensi yang dimiliki oleh Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya di wilayah perairan laut adalah rumput laut. Saat ini komoditas rumput laut cukup menjanjikan selain mudah dalam pengembangan dan pengelolaannya, juga karena harganya yang lumayan tinggi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltara Rukhi Syayahdin menuturkan potensi rumput laut di Kaltara khususnya Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan cukup besar.

“Kita patut bersyukur karena harga rumput laut boleh di kata harga selalu naik bahkan sampai Rp 30 ribu perkilogramnya,” ungkap Rukhi Syayahdin kepada benuanta.co.id, Rabu 6 Juli 2022.

Lanjutnya, dengan harga yang mencapai puluhan ribu itu sudah masuk ke dalam harga yang tertinggi. Oleh karenanya harga tersebut akan terus di jaga, terlebih pada tahun 2021 angka produksinya sangat besar.

Baca Juga :  Dishub Bulungan Antisipasi Lonjakan Penumpang Speedboat Jelang Lebaran 2026

“Jadi produksi rumput laut kita tahun 2021 mencapai 62 ribu ton rumput laut kering. Jika harga Rp 20 ribu maka sudah Rp 1,2 triliun kalau dikalikan Rp 30 ribu berarti Rp 1,8 triliun,” sebutnya.

Dia mengatakan arahan Gubernur Kaltara terkait harga rumput laut sudah jelas, kata Rukhi Syayahdin apapun bentuknya maka segera dilaksanakan supaya dapat menyejahterakan masyarakat.

“Perintahnya agar memaksimalkan agar meningkat harganya. Jadi kita akan dongkrak terus agar produksinya melebihi tahun lalu. Salah satu caranya pemerintah harus berlari menyiapkan bibit kemudian berupaya rumput laut kita jangan sampai dibawah standar,” ucapnya.

Baca Juga :  Menangguk Seruyuk di Sungai Kayan, Warisan Leluhur Terus Dilestarikan

Kata dia, ini patut di syukuri pasalnya perputaran uang yang berasal dari rumput laut di Kaltara sangat besar dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Untuk itu, dirinya berharap semua stakeholder baik pemerintah maupun swasta dan masyarakat harus berpikirnya fokus pada sisi mempertahankan produk.

“Apapun yang berdampak pada turunnya produksi itu baik kuantitas maupun kualitas, itu harus segera antisipasi,” jelasnya.

Pasalnya permasalahan rumput laut itu sendiri sangat kompleks, diantaranya konflik horizontal antara pemukat rumput laut dengan pembudidaya rumput laut. Dirinya mendapatkan laporan banyak pembudidaya rumput laut itu kerap kehilangan, indikasinya karena pemukat rumput laut.

Baca Juga :  Bulungan Siapkan Cetak Sawah Baru 1.600 Ha pada 2026

“Hanya saja kita memakai hukum asas praduga tak bersalah, tapi harus kita buktikan. Hanya saja filing kita, karena saya sering mengawasi ternyata banyak ditemukan pemukat itu bekerja dimalam hari,” terangnya.

Melihat hal itu, dalam waktu dekat untuk semua persoalan yang berkaitan dengan rumput laut akan dibuatkan aturan, sehingga ada batasan agar semua bekerja pada koridornya. Salah satunya para pemukat rumput laut itu bagaimana seharusnya bekerja.

“Akan kita buatkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur semuanya,” tutupnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *