DP3AP2KB Bulungan Catat 2 Ribu Lebih Anak Tidak Sekolah

benuanta.co.id, BULUNGAN – Persoalan anak putus sekolah masih menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Bulungan.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) terus berupaya menekan angka tersebut melalui berbagai pendekatan.

Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sekitar 2.800 anak di Kabupaten Bulungan tidak melanjutkan pendidikan. Jumlah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Tanjung Palas Timur, Tanjung Selor, dan Sekatak.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bulungan, Hj. Andriana menjelaskan, penyebab anak putus sekolah tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi. Kondisi psikologis anak serta lingkungan keluarga juga berperan besar dalam menentukan keberlanjutan pendidikan mereka.

Menurutnya, DP3AP2KB saat ini aktif melakukan pendampingan kepada anak-anak yang putus sekolah, terutama di wilayah pedalaman seperti Kecamatan Sekatak.

Baca Juga :  Portal Parkir Digital Diuji Coba di Pelabuhan Kayan II

“Kondisi kehidupan di Sekatak tentu berbeda, sehingga anak-anak di sana membutuhkan pendekatan yang lebih khusus. Kami sudah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi agar angka putus sekolah bisa ditekan,” ujar Adriana, Jumat (6/3/2026).

Dari hasil pendampingan yang dilakukan, pihaknya menemukan banyak anak yang merasa tidak percaya diri untuk kembali ke sekolah karena sudah lama tidak mengikuti kegiatan belajar.

“Banyak anak merasa minder, takut bertemu teman-temannya, dan akhirnya enggan kembali ke sekolah. Ini yang menjadi tantangan kami di lapangan,” jelasnya.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, DP3AP2KB melibatkan konselor dalam proses pendampingan. Melalui konseling, anak-anak diajak berbicara dan didengarkan keluhannya sehingga kondisi mental mereka dapat dipahami dengan lebih baik.

“Kami mencoba mendekati mereka secara perlahan. Anak-anak kami ajak berdialog untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka rasakan dan pikirkan,” katanya.

Baca Juga :  Satu Rumah di Selimau Tanjung Selor Terbakar

Selain itu, pendekatan juga dilakukan kepada keluarga. Andriana menilai dukungan orang tua sangat penting dalam mendorong anak agar kembali melanjutkan pendidikan.

“Kami mendatangi keluarga yang anaknya putus sekolah untuk mengetahui penyebabnya. Dengan begitu kami bisa mencari jalan keluar bersama,” ungkapnya.

Dari hasil penelusuran di lapangan, sejumlah faktor yang memicu anak putus sekolah di antaranya keterbatasan ekonomi keluarga, rendahnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan, serta pengaruh lingkungan sosial.

Tak hanya itu, ada pula anak yang merasa sudah tidak nyaman lagi dengan lingkungan sekolah setelah lama berhenti belajar.

“Ada yang merasa sulit beradaptasi kembali, bahkan ada yang merasa terasing ketika kembali ke sekolah,” ujarnya.

Baca Juga :  Disnakertrans Bulungan Buka Pengaduan bagi Pekerja, Dijamin Kerahasiaan Pelapor

Dalam beberapa kasus, pihaknya juga menemukan kendala yang berkaitan dengan persoalan wilayah adat dan tempat tinggal anak.

“Pernah kami temui anak yang tidak mau kembali sekolah karena merasa takut atau merasa tidak punya tempat lagi setelah keluar dari wilayah adatnya,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DP3AP2KB terus memperkuat koordinasi dengan dinas terkait, pihak sekolah, serta pemerintah desa agar anak-anak yang putus sekolah tetap mendapatkan akses pendidikan.

Andriana menegaskan bahwa penanganan anak putus sekolah membutuhkan proses yang panjang karena setiap anak memiliki latar belakang dan permasalahan yang berbeda.

“Pendampingan harus dilakukan secara bertahap. Yang paling penting adalah membangun kembali kepercayaan diri anak agar mereka berani kembali belajar,” pungkasnya.(*)

Reporter: Alvianita
Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *