benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Di tahun 2024 mendatang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan akan memprogramkan optimalisasi produktivitas pangan.
Bupati Bulungan Syarwani, mengatakan Pemkab Bulungan telah memetakan lokasi yang menjadi sentra kawasan pangan. Seperti salah satunya di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kecamatan Tanjung Palas Tengah dan Kecamatan Tanjung Palas Utara.
“Kami akan melakukan optimalisasi produktivitas pangan di tahun 2024. Sejumlah daerah sudah mulai ada pembukaan lahan pertanian baru,” katanya, Jumat (15/9/2023)
Pemkab Bulungan dipastikan tidak hanya fokus pada sektor hulu atau di ranah kuantitas produksi. OPD terkait telah diminta untuk menangani sektor hilir yang berkaitan dengan pengolahan paska panen.
Syarwani memahami jika hilirisasi pangan masih cukup mengalami kendala. Misal alat pengering gabah di Tanjung Palas Timur dan Tanjung Palas Utara yang memiliki kapasitas terbatas. Persoalan ini juga ditambah perihal proses penggilingan padi dan pengemasan beras.
“Pemerintah menyadari seeperti dryer (pengering), rice milling (penggiling padi) dan packing masih memiliki keterbatasan. Ini yang akan kita kelola lebih baik di tahun depan, dan Pemerintah tidak fokus masalah hulu saja, melainkan hilirisasi paska panen juga dibenahi. Masih ada kelemahan yang perlu dilakukan perbaikan,” jelasnya.
Adapun, pemerintah dipastikan tidak pukul rata perihal pemilihan jenis komoditas tanaman. Syarwani memahami jika hal tersebut tidak bisa diseragamkan karena perbedaan jenis tanah dan kondisi wilayah.
Dia mencontohkan, tiga kecamatan yang ada di wilayah hulu Bulungan tidak bisa hanya fokus memproduksi padi. Sebagian tanah dan lokasi mereka lebih cocok menjadi perkebunan dengan jenis tanaman hortikultura.
“Daerah hulu Sungai Kayan tidak seluruhnya produksi padi, ada tanaman hortikultura perkebunan yang dikembangkan, utamanya cokelat. Seperti ada di Antutan, Long Sam dan Peso, ini menyesuaikan lahan,” ungkapnya.
Pemkab Bulungan dipastikan tetap mendukung setiap jenis komoditas tanaman yang dikembangkan masyarakat. Dengan begitu, ada keberagaman produk pangan yang bisa dibudidayakan pada masing-masing daerah. (*)
Reporter: Ikke
Editor: Yogi Wibawa







