benuanta.co.id, TARAKAN – Siapa sangka jika boneka rajut karya tangan warga Kota Tarakan sangat diminati warga mancanegara dan memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Benuanta.co.id mengunjungi rumah produksi Almaq Tati Rajut yang berada di Jalan Perumnas RT 04 NO 8A, Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Tarakan Utara. Jumat (26/8/2023).
Owner produk boneka rajut Almaq Tati Rajut, Suhartati menjelaskan, usaha miliknya sudah berdiri sejak 2016 silam.
Sejumlah produk yang ia hasilkan memiliki ukuran yang bervariasi. Untuk harga boneka rajut dikenakan mulai Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu.
Ia menerangkan, almaq tati rajut merupakan nama anak bungsunya. Terdapat sejarah dan kenangan dalam penamaan tersebut.
“Huruf q di baca ku,” ucap Suhartini saat berada di rumahnya.
Pelanggan yang terbiasa dengan produk tersebut menyebutnya alma ku. Artinya boneka itu milikku.
Suhartati mengisahkan, kala itu ia bersama suaminya membelikan anaknya sebuah boneka. Namun saat digunakan boneka tersebut lengket dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Ia menilai jika boneka itu tidak ramah lingkungan. Atas alasan tersebut, ia mencoba menciptakan sebuah produk yang ramah anak.
Dari keinginan tersebut muncullah sebuah ide. Usai melakukan pencarian, ia mendapatkan gagasan hasil dari pencarian karya rajut asal negara Peru.
“Saya terapkan konsep Amati Tiru Modifikasi (ATM) hingga menciptakan suatu pola rajutan,” tuturnya.
Kegagalan demi kegagalan dalam mendapatkan formula yang tepat tidak menyurutkan niat Suhartati dalam menghasilkan produk yang apik.
Berkat Keuletan serta kegigihannya, produk yang ia hasilkan pun diterima di pasaran.
“Saya berusaha menyediakan boneka yang ramah untuk anak,” imbuhnya.
Boneka rajut almaku memiliki keistimewaan yaitu aman dan ramah untuk anak karena, dalam setiap detailnya telah melewati beberapa tahap uji laboratorium.
Saya meraih tiga ISO atau organisasi standarisasi dari hasil tersebut,” ungkapnya.
Dharmawati menuturkan jika boneka hasil rajutannya aman bagi anak dibawah 5 tahun lantaran tidak menimbulkan iritasi maupun gatal pada kulit.
“Boneka rajut telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI),” imbuhnya.
Suhartini mengatakan, masing-masing boneka memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Dalam proses pembuatan boneka rajut, ia bisa menghabiskan 2 hingga 3 hari waktu pengerjaan.
Ia biasa dibantu oleh adik kandungnya, selebihnya orderan tersebut ia kerjakan sendiri lantaran hasilnya akan lebih maksimal.
“Beda tangan beda hasil karya,” terangnya.
Hasil kerja keras Suhartati membuahkan hasil. Kini boneka rajut almaq memiliki pelanggan yang berasal dari Kalimantan Utara (Kaltara), Indonesia maupun hingga mancanegara.
l”Biasanya ada 15 boneka rajut yang diekspor ke Negara Taiwan,” tuturnya.
Dalam perbulan, Suhartati bisa meraup omzet sebesar Rp 4 hingga Rp 5 juta dengan modal awal senilai Rp 600 ribu.
Kalimantan Utara (Kaltara) boleh berbangga karena boneka rajut almaq merupakan satu-satunya di Indonesia yang memiliki Sertifikasi SNI. Artinya, Kaltara memiliki produk yang telah diakui secara nasional.
Sejauh ini pemerintah hanya berfokus kepada produk ekonomi kreatif (ekraf) lainnya. Seharusnya komunitas rajut pun perlu diangkat.
“Harapan saya agar masyarakat di Indonesia khususnya di Tarakan bisa kebih jeli dan mendukung produk Industri Kecil Menengah (IKM) lokal menjadi produk unggulan,” tutupnya.(*)
Reporter: Okta Balang
Editor: Ramli







