benuanta.co.id, TARAKAN – Dalam rangka kesiapsiagaan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota Tarakan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Satgas Pengendalian Pangan Kota Tarakan melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) pasar, Rabu (24/12/2025).
Sidak pasar tersebut dilaksanakan di Pasar Tenguyun dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., bersama unsur Forkopimda, perwakilan Bank Indonesia, Bulog, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau secara langsung perkembangan harga serta ketersediaan bahan pangan pokok di pasaran agar inflasi tetap terjaga dan stabil menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Usai melakukan pemantauan, Wali Kota Tarakan menyampaikan secara umum kondisi harga bahan pokok di pasar masih relatif stabil dan tidak menunjukkan lonjakan yang signifikan.
“Iya, secara keseluruhan saya lihat bahwa harga-harga masih stabil, jadi hampir tidak ada lonjakan harga yang signifikan. Bahkan ada harga yang turun,” ungkapnya.
Khairul menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi inflasi sebelumnya, salah satu komoditas yang sempat menjadi penyumbang inflasi adalah ikan layang. Namun, dari hasil pemantauan langsung di pasar, harga ikan layang justru mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kita tanya tadi, kan hasil evaluasi inflasi kemarin salah satunya itu ikan layang yang menyebabkan inflasi. Ini malah kita cek tadi turun separuh harga dari yang sebelumnya,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Wali Kota berharap pemantauan harga di bulan Desember ini dapat berdampak positif terhadap laju inflasi Kota Tarakan. “Mudah-mudahan pemantauan di Desember ini malah inflasi bisa turun lagi. Kemarin sih kita prediksi itu di 2,67 persen, dan terakhir sampai akhir bulan, kalaupun naik 2,7 persen,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan berdasarkan hasil pemantauan di pasar, kecenderungan harga pada beberapa komoditas yang menjadi survei inflasi justru mengalami penurunan. Beberapa di antaranya adalah ikan layang, ikan bandang, beras, minyak goreng, dan bawang putih.
“Kalau kita melihat harga di pasar, kecenderungan itu di beberapa produk pangan yang menjadi salah satu survei inflasi itu beberapa turun. Contohnya ikan layang, ikan bandang, kemudian beras, minyak, kita bawang putih,” bebernya.
Sementara itu, komoditas cabai tercatat mengalami kenaikan harga. Menurut Khairul, sebelumnya harga cabai berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram dan saat ini naik menjadi sekitar Rp80 ribu per kilogram. “Nah, itu cabai saja yang naik sedikit. Kemarin itu pemantauan kita sekitar Rp60 ribu, sekarang ini agak naik Rp80 ribu. Mungkin nanti ini yang penyumbang inflasi,” paparnya.
Meski demikian, ia menilai adanya beberapa komoditas yang mengalami deflasi dapat saling menutupi kenaikan harga tersebut. “Tapi ada beberapa produk yang deflasi. Mudah-mudahan ini bisa saling menutupi,” harapnya.
Selain harga, Khairul juga memastikan kondisi harga komoditas lain seperti ayam, telur, dan kebutuhan pokok lainnya terpantau relatif stabil dan tidak bergejolak. “Tadi saya pantau secara keseluruhan bahwa harga ini tidak bergejolak, termasuk harga ayam dan lain sebagainya, harga telur, jadi relatif lebih tenang,” terangnya.
Dari sisi ketersediaan stok, Khairul memastikan pasokan bahan pangan di Kota Tarakan dalam kondisi aman. Untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), kebutuhan Kota Tarakan dalam satu bulan mencapai sekitar 200 ton, sementara stok yang tersedia di lapangan mencapai 870 ton.
“Untuk SPHP sendiri, kebutuhan kita dalam sebulan itu 200 ton. Itu stok kita ada di lapangan 870 ton. Itu bisa mengakomodasi kebutuhan empat bulan ke depan,” tuturnya.
Sementara untuk beras premium, kebutuhan per bulan sekitar 20 ton dengan stok yang tersedia saat ini mencapai 50 ton, sehingga diperkirakan mencukupi kebutuhan selama dua setengah hingga tiga bulan ke depan.
“Kalau untuk premium, kebutuhan kita sebulan 20 ton, dan untuk stok sekarang itu 50 ton. Berarti bisa untuk 2,5 sampai 3 bulan ke depan,” imbuhnya.
Kondisi serupa juga berlaku untuk ketersediaan minyak goreng yang dinilai masih aman. “Untuk minyak juga begitu. Jadi intinya, untuk kebutuhan pokok itu semua stok terjaga,” tegasnya.
Khairul menambahkan lonjakan harga biasanya terjadi menjelang malam atau pergantian Tahun Baru, namun secara historis lonjakan tersebut tidak setinggi saat momentum Lebaran. “Biasanya lonjakan itu terjadi di malam atau menjelang Tahun Baru. Tapi biasanya lonjakan terjadi tidak setinggi misalnya Lebaran,” ujarnya.
Dengan hasil pemantauan tersebut, Pemerintah Kota Tarakan optimistis stabilitas harga dan pasokan pangan dapat terus terjaga hingga akhir tahun. “Kita optimis, insya Allah hingga akhir tahun harga bisa terkendali,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







