benuanta.co.id, TARAKAN – Mendapat presentase 25,9 persen pada kasus stunting, Pemerintah Kota Tarakan melakukan mitigasi dalam pencegahan peningkatan presentase ini.
Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M. Kes mengatakan bahwa dampak dari stunting tentu sangat besar dalam generasi pertumbuhan bangsa. Dalam hal ini, teori stunting yang dimaksud ialah kekurangan gizi jangka panjang pada anak.
“Terutama kalori dan proteinnya, kemudian ada takaran mineral tertentu. Itu bisa terjadi karena yang mau dimakan tidak ada,” katanya, Jumat (22/7/2022).
Ia menyebutkan, bahwa kasus ini bisa juga terjadi karena korelasi dengan kasus kemiskinan suatu daerah. Namun, di Tarakan sendiri dijelaskan Khairul, angka kemiskinan di Tarakan semakin tahun malah semakin turun.
“Angka kemiskinan kita tentu jauh di bawah standar nasional, sehingga korelasi ini tidak nyambung jika dibilang karena angka kemiskinan,” jelasnya.
Selanjutnya, ketidaktahuan masyarakat dalam memilih protein untuk tumbuh kembang anak juga selalu tidak diperhatikan. Misalnya saja mengkonsumsi makanan instan dengan rasa yang bermacam-macam, padahal rasa yang dimaksud hanyalah perasa bukan protein atau kalori yang sebenarnya.
“Ada rasa ayam, rasa soto, itukan hanya rasa tidak ada apa-apanya, kembali ke karbohidrat, akhirnya yang masuk (ketubuh) hanya karbohidrat, tidak ada protein, vitamin, mineral. Jadilah komposisi gizi yang tidak sempurna,” urainya.
“Anak-anak sebenarnya sudah makan, memang kenyang tapi secara komposisi gizinya itu dengan pertumbuhan tinggi, otak itu tidak ada,” lanjut orang nomor satu di Tarakan itu,
Mantan sekretaris Kota Tarakan itu juga mengungkapkan bahwa cacing yang terdapat pada tubuh anak juga dapat menjadi pemicu stunting. Karena, protein dan mineral selalu diambil oleh cacing tersebut.
Dari data yang ada, pihak Pemkot Tarakan meminta kepada dinas terkait untuk melakukan tracing case by case. Artinya tracing ini harus jelas dari identitas si ibu maupun buah hati.
Tak hanya itu, nantinya dari Posyandu juga akan dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk si tambahan gizi anak.
“Tapi nanti ke depan, meningkatkan pengetahuan ke ibu hamil dan juga yang baru menikah. Karena sejak di dalam kandungan itu sudah menentukan, misal kalau ibunya ada anemia pasti nurun ke anaknya,” tandasnya.
Terpisah, Ketua Satgas Penurunan Stunting Kota Tarakan, Effendhi Djuprianto menuturkan bahwa pihaknya akan bergerak dengan sigap dalam menyikapi kasus stunting ini seperti, penataan kawasan kumuh. Namun, penataan ini dinilai lambat karena masih partisipasi dan kepeduliam dari stakeholder dan masyarakat masih kurang.
“Kita juga akan sinergi dengan Polri tentang Perda berbasis lingkungan, ini juga nanti dilatih pendampingnya termasuk masyarakat juga kita libatkan,” tuturnya.
Dalam hal ini pihaknya sedang merancang dan mengusulkan hal tersebut ke Pemerintah Provinsi. Termasuk dengan kucuran dana yang akan pihaknya usulkan ke Komisi IX DPR RI. Effendhi menegaskan bahwa kucuran dana ini terbilang cukup besar yakni sekitar Rp 61 miliar.
“Ini usulan dari masing-masing OPD juga, dari TNI juga seperti 613, Panglima Angakatan Darat juga memerintahkan untuk penanganan stunting ini, mudah-mudahan nanti (usulan dananya) disetujui Pak Wali Kota. Kita masih rencanakan tahun ini, ya minimal masing-masing OPD dapat mengusulkan dulu lah,” pungkas Wakil Wali Kota Tarakan itu. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







