benuanta.co.id, TARAKAN – Pembangunan kawasan kuliner tepat di sebelah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB), mengundang catatan penting dari akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Borneo Tarakan (UBT).
Pandangan akademis oleh Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) ini, menitikberatkan pada faktor ekologi dan ekonomi secara berkelanjutan.
Kawasan kuliner di KKMB, menurut Dr. Muhammad Roem, S. Kel.,M.Si dinilai cukup baik dan strategis. Namun ia menerangkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ulang.
“Perlu diperhatikan ketika air laut pasang besar, dapat membawa sampah dan bau (aroma) dari limbah pasar ikan atau ayam yang terangkut oleh badan air. Aliran outlet air dari pasar ikan pasti teraliri ke sekitar itu,” terang Dr. Muhammad Roem, S. Kel.,M.Si kepada benuanta.co.id, Ahad (17/7/2022).
Doktor lulusan Universitas Brawijaya ini pun mengingatkan pembangunan kawasan kuliner itu rentan berdampak pada satwa Bekantan yang notabenenya dalam konservasi.
Peneliti ekosistem padang lamun ini juga menguraikan keberadaan satwa dan biota pada ekosistem mangrove tersebut, perlu diperhatikan serius.
“Bagaimana penerangan lokasinya, kesejahteraan satwa (Bekantan) akibat polusi seperti intensitas cahaya dan kebisingan,” lanjut pegiat selam ilmiah ini.
Lantaran tempat wisata ternama di Tarakan itu sebagai kawasan konservasi, ia menyoalkan agar pengelolaan limbah kuliner seperti halnya limbah organik maupun plastik kemasan harus dijamin serta dilakukan pengolahan yang baik.
Lebih lanjut, menurut Muhammad Roem, kawasan kuliner tersebut perlu memastikan sekitarnya ihwal kelayakan sebagai tempat makan pengunjung.
Lalu kemudian, strategi promosi agar daya tarik wisata kuliner semakin diketahui publik, haruslah menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pasar di ekowisata itu.
“Apakah ada segmentasi pasar spesifik, seperti jenis kuliner yang disajikan khas sehingga orang berminat berkunjung disitu,” tandasnya.
Sebelumnya, menurut penjelasan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Tarakan, fasilitas jalan yang baru dibangun itu akan difungsikan sebagai sarana perdagangan kuliner di area ekowisata tersebut.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Tarakan, Abdul Rahim S.T,M.T menyebut, nantinya area kuliner itu akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang bagi pengunjung.
“Jadi itu (jalan) untuk kuliner. Kanopy yang di Jalan Gajahmada akan dipindahkan ke jalan samping KKMB,” terang Abdul Rahim kepada benuanta.co.id, Sabtu (16/7/2022).
Tempat wisata ikonik di Kota Tarakan tersebut, kata Abdul, akan memiliki fasilitas jalan yang saling terhubung. Proyek pembangunan itu, dijelaskannya akan selesai pada tahun 2022 ini.
“Untuk ke depannya diharapkan bisa tembus ke Kawasan Magrove untuk wisata,” tambah Abdul.
Pihaknya mengaku bersungguh-sungguh untuk memantapkan infrastruktur pariwisata di pesisir laut itu, lantaran juga KKMB selain tempat wisata pun sarana edukasi kepada masyarakat serta wisatawan.
“Mudah-mudahan bisa selesai tahun ini (2022), tergantung anggaranya. Sumbernya dari APBD, tapi saya tidak hapal nilainya,” tutup Kabid Bina Marga. (*)
Reporter: Kristianto Triwibowo
Editor: Yogi Wibawa







