Virus ASF Pembunuh Babi Tercepat, BKP Tarakan Tingkatkan Pengawasan

TARAKAN – Virus African Swine Fever (ASF) atau disebut dengan demam babi afrika dikabarkan telah menjangkit peternakan babi di Sabah, Malaysia pada bulan Februari 2021. Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan akan tingkatkan pengawasan di perbatasan.

Untuk diketahui, ASF merupakan virus yang tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat, namun dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen, dan dapat sangat berdampak pada perdagangan serta mengancam ketahanan pangan.

Kepala Balai Karantina pertanian Tarakan Drh. Ahmad Alfaraby mengatakan, ASF masuk ke Indonesia pertama kali di Sumatera Utara pada tahun 2019, dan lebih dari 40.000 babi terinfeksi virus ASF.

Baca Juga :  1.494 Kendaraan Terjaring Razia Pajak Kendaraan di Tarakan

“Ada beberapa faktor penyebab masuknya ASF ke Indonesia, antara lain pemasukan daging babi dan produk babi, sisa-sisa katering transportasi internasional baik dari laut maupun udara yang selanjutnya digunakan sebagai swill feeding, orang yang terkontaminasi virus ASF, lalu kontak babi di lingkungan,” ujar Ahmad kepada awak media, Jumat (9/4/2021)

Ahmad menjelaskan, lalu lintas media pembawa virus ASF dapat dicegah dengan cara tidak menjual babi/karkas yang terjangkit virus penyakit ASF
serta tidak mengkonsumsinya, isolasi babi yang terkena penyakit ASF dan peralatannya serta dilakukan pengosongan kandang selama 2 bulan

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Akan Buka Layanan Cek Kesehatan Gratis di Posko Operasi Ketupat

“Babi yang mati karena penyakit ASF dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur untuk mencegah penularan yang lebih luas, karena dampaknya sangat berbahaya bagi ternak,” terangnya.

“Tingkat kematian ASF sangat tinggi, bila sudah masuk ke peternakan babi, nilai kerugian ekonominya sangat luarbiasa bagi peternak babi, jadi kita antisipasi untuk tidak masuk ke wilayah kita,” sebut Ahmad.

Baca Juga :  SPPG Gunung Lingkas 003 Diresmikan, Targetkan 2.500 Penerima Manfaat

Peternak babi di Kaltara, khususnya di Tarakan juga diminta untuk mewaspadai tanda-tanda virus ASF, dan tetap mengikuti protokol peternakan babi, sehingga ternak tidak terjangkit.(*)

Gejala virus ASF pada babi, antara lain :

– Demam tinggi
– Kehilangan nafsu makan, muntah, diare
– Perdarahan pada kulit (sianosis) dan organ
dalam
– Perubahan warna kulit menjadi ungu
– Abortus pada babi yang bunting
– Ada juga yang menunjukkan radang sendi, dan akhirnya mati

Reporter : Matthew Gregori Nusa
Editor : Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *