benuanta.co.id, TARAKAN – Genangan air berbau menyengat dan jalan berlubang di Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan.
Lis (55), pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut selama dua tahun, mengatakan bau tidak sedap sudah dirasakan sekitar tiga minggu terakhir. Bau itu disebut muncul sepanjang hari dan semakin menyengat pada sore hari, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat yang melintas maupun berjualan di sekitar lokasi.
“Sudah tiga minggu ini baunya. Tidak ada putusnya,” ungkap Lis saat ditemui benuanta.co.id, di lokasi, Kamis (15/10/2026).
Persoalan yang dikeluhkan warga bukan semata-mata bau. Genangan air juga menutupi lubang pada badan jalan sehingga sulit terlihat oleh pengendara. Lis menceritakan, pernah ada pengendara yang terjatuh setelah melintasi lubang yang tertutup air.
Menurutnya, lubang jalan yang awalnya kecil kini semakin melebar. Air yang terus menggenangi bagian jalan serta kendaraan berat yang melintas diduga memperparah kerusakan tersebut. Lis bahkan sempat berinisiatif menimbun lubang menggunakan pasir dan kerikil serta memasang tanda peringatan agar pengendara lebih berhati-hati.
“Kita kasih pasir, kasih kerikil. Saya juga pernah kasih tanda pakai payung, tetapi tetap saja ditabrak. Repot juga, jangan sampai ada korban,” tuturnya.
Kondisi itu memperlihatkan persoalan yang dihadapi warga tidak berhenti pada kenyamanan lingkungan. Lubang yang tertutup genangan menjadi risiko tersendiri karena pengendara tidak dapat memperkirakan kedalaman dan kondisi permukaan jalan. Jika tidak segera ditangani, kerusakan berpotensi terus meluas dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Terkait sumber genangan dan bau, warga menduga air berasal dari saluran drainase atau buangan usaha pencucian pakaian (laundry) di sekitar kawasan tersebut. Namun, dugaan itu belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kepastian sumber air penting agar penanganan tidak hanya mengatasi genangan di permukaan, tetapi juga menyelesaikan penyebab persoalan.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Provinsi Kalimantan Utara, Erni, menjelaskan sedimentasi atau penumpukan material di saluran menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat aliran air. Kondisi itu, menurutnya, dapat dipengaruhi pasang surut air laut, sedimen, dan sampah.
Ia mengatakan pemerintah provinsi akan melakukan pemeliharaan rutin berupa pembersihan drainase dan penambalan lubang jalan. Pekerjaan tersebut diupayakan dapat dilaksanakan pada Oktober 2026.
“Ya pembersihan sedimen. Kita akan bersihkan kalau yang seperti ini kita lakukan secara manual,” katanya.
Erni mengungkapkan pihaknya akan melakukan pemeliharaan untuk jangka pendek dengan melakukan pemeliharaan rutin dan mudahan bisa dilakukan pemeliharaan berkala. Ia juga membeberkan dainase milik pemerintah kota juga mengalami sedimentasi, oleh karena itu, ia berharap pemerintah kota dapat ikut serta melakukan pembersihan drainase.
“Kalau bisa kota juga melakukan pembersihan supaya aliran ini lancar,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







