Saksi Klaim Ada Aktivitas Sebelum Rumah Kosong di Gunung Lingkas Terbakar

benuanta.co.id, TARAKAN – Kebakaran rumah kosong di Jalan Bengkirai RT 04, Kelurahan Gunung Lingkas, Kota Tarakan, masih menyisakan tanda tanya. Di tengah belum jelasnya penyebab kebakaran, muncul keterangan warga yang menyebut adanya aktivitas mencurigakan hingga dugaan kemunculan orang tak dikenal sesaat sebelum api melalap bangunan tersebut.

Seorang warga sekitar, Santi, mengaku memperoleh kabar dari seseorang di lokasi kejadian m ada dua orang terlihat keluar dari rumah tersebut saat api mulai membesar. Ia menyampaikan informasi itu bukan berdasarkan penglihatannya langsung.

“Saya diberi tahu ada dua orang keluar dari rumah itu sambil membawa kabel,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).

Meski demikian, Santi mengaku tidak mengenal sosok yang memberinya informasi tersebut. Ia juga tidak dapat memastikan kebenaran kabar tersebut karena tidak melihat langsung kejadian dimaksud.

“Orangnya saya tidak kenal, cuma menyampaikan begitu saja,” katanya.

Santi yang tinggal di RT 02, tak jauh dari lokasi kebakaran, juga mengklaim sehari sebelum kejadian, ia sempat melihat adanya aktivitas di rumah kosong tersebut. Hal itu dianggap janggal mengingat bangunan tersebut telah lama tidak berpenghuni.

“Kemarin sempat ada aktivitas di situ, saya lihat sendiri,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua RT 04 Jalan Bengkirai, H. Zainuddin, menerangkan rumah tersebut memang sudah beberapa kali disewakan sejak lama oleh pemiliknya yang merupakan pegawai pemerintah kota. Ia menyebut penghuni terakhir adalah seorang perempuan bernama Erny.

“Rumah ini memang sudah lama disewakan, terakhir ditempati Ibu Erny,” jelasnya.

Ia menerangkan, Erny merupakan warga kurang mampu yang sebelumnya kerap mendapat bantuan dari pihak kelurahan dan RT setempat. Kondisi kesehatannya yang menurun membuatnya harus menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia pada November 2025.

“Beliau sering kami bantu, termasuk bantuan beras karena masuk kategori tidak mampu,” terangnya.

Zainuddin menjelaskan, penghuni terakhir rumah tersebut memang sempat tinggal dalam kondisi kesehatan yang terus menurun. Hingga akhirnya pada November 2025, yang bersangkutan harus dilarikan ke rumah sakit dan kemudian meninggal dunia.

“Memang waktu itu kondisinya sakit-sakitan, sempat dibawa ke rumah sakit di Kampung 1 itu, lalu meninggal pada November 2025,” terangnya.

Sejak saat itu, lanjutnya, rumah tersebut kembali tidak berpenghuni dan dibiarkan kosong hingga terjadinya kebakaran. Minimnya aktivitas membuat kondisi bangunan jarang terpantau secara langsung oleh warga sekitar.

“Setelah itu tidak ada lagi yang menempati, jadi rumah ini kosong sampai sekarang,” ujarnya.

Terkait kabar adanya dua orang yang keluar dari rumah saat kebakaran, Zainuddin mengaku belum bisa memastikan kebenaran informasi tersebut. Ia menegaskan belum ada bukti atau laporan resmi yang menguatkan hal itu.

“Saya sendiri belum pernah menemukan atau memastikan adanya dua orang itu,” tegasnya.

Ia pun menambahkan sebelum ditempati Erny, rumah tersebut memang sempat lama kosong selama beberapa tahun. Siklus penghuni yang tidak menetap ini membuat kondisi rumah kerap tidak terpantau secara optimal.

“Sebelumnya kosong lama, baru ditempati sekitar setahun dua tahun oleh Ibu Erny sebelum beliau meninggal,” bebernya.

Menurut Zainuddin, tidak menutup kemungkinan ada anak-anak atau orang lain yang datang ke lokasi tersebut, terutama pada malam hari. Namun, hingga saat ini belum ada temuan pasti yang mengarah pada penyebab kebakaran.

“Ya kita tidak tahu juga mungkin kadang ada anak-anak di situ datang, tapi sampai sekarang belum ada temuan pasti terkait penyebab kebakaran,” pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwajib terkait penyebab pasti kebakaran tersebut dan masih dalam tahap penyelidikan.

 

Kerahkan 25 Personel dan 5 Armada 

Upaya pemadaman kebakaran rumah kosong di Jalan Bengkirai RT 04, Kelurahan Gunung Lingkas, Kota Tarakan, yang terjadi pada Senin (6/4/2026), mengerahkan puluhan personel dan sejumlah armada.

Kepala Bidang PMK Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengungkapkan pihaknya menerima laporan kebakaran pada pukul 15.39 WITA. Saat informasi diterima, kondisi api disebut sudah dalam keadaan membesar.

“Kami menerima informasi sekitar pukul 15.39 WITA dan saat itu kondisi api sudah membesar,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel langsung digerakkan menuju lokasi kejadian. Tim pertama yang tiba berasal dari Mako Kampung Satu dan segera melakukan penanganan awal.

“Anggota langsung kami gerakkan untuk menuju lokasi dan melakukan penanganan,” katanya.

Ia menyebutkan, penanganan mulai dilakukan pada pukul 15.47 WITA atau sekitar delapan menit sejak laporan diterima. Meski waktu tanggap tergolong cepat, kondisi api yang sudah telanjur membesar menjadi tantangan di awal proses pemadaman.

“Penanganan mulai pukul 15.47 WITA, response time sekitar delapan menit,” jelasnya.

Dalam operasi tersebut, sebanyak 25 personel dikerahkan yang berasal dari Mako Kampung Satu dan Mako Sektor Barat. Pengerahan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

“Personel kami kerahkan total 25 orang dari Mako dan Sektor Barat,” paparnya.

Selain kekuatan personel, armada juga diperkuat untuk menunjang proses pemadaman. Secara keseluruhan terdapat lima unit kendaraan operasional yang diterjunkan ke lokasi kejadian.

“Total armada ada lima unit, terdiri dari tiga dari Mako dan dua dari Sektor Barat,” terangnya.

Pada tahap awal, satu unit mobil pemadam dan satu unit suplai air dari Mako Kampung Satu diturunkan untuk penanganan pertama. Seiring membesarnya api, bantuan tambahan dari Sektor Barat berupa satu unit pemadam dan satu unit suplai turut dikerahkan.

“Awalnya kami turunkan satu fire dan satu suplai, kemudian dibackup dari Sektor Barat,” katanya.

Dukungan suplai air juga menjadi perhatian dalam proses pemadaman. Tambahan pasokan air dengan kapasitas sekitar 5 ton hingga 10 ton turut dikerahkan guna memastikan api dapat dikendalikan secara maksimal.

“Ada juga tambahan suplai air, sekitar 5 ton dan 10 ton untuk mendukung pemadaman,” jelasnya.

Selain PMK, penanganan di lapangan turut melibatkan berbagai unsur pendukung, seperti relawan Korlakar, BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), serta pihak PLN. Keterlibatan PLN diperlukan karena sempat muncul percikan api di bagian depan rumah, meskipun meteran listrik sudah tidak terpasang.

“Kami dibantu relawan, BPBD, PMI, dan PLN yang sangat siap, termasuk menangani percikan di depan,” ujarnya.

Saat tiba di lokasi, petugas mendapati rumah yang terbakar merupakan bangunan tunggal yang tidak berdempetan dengan permukiman lain. Namun, akses menuju lokasi cukup terjal sehingga menjadi tantangan dalam proses penanganan.

“Rumahnya berdiri sendiri, tapi medannya cukup terjal,” bebernya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, rumah tersebut telah lama kosong, diperkirakan sekitar lima bulan tanpa penghuni. Kondisi ini membuat pengawasan terhadap bangunan menjadi minim. “Informasi yang kami terima, rumah ini sudah kosong sekitar lima bulan,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa banyaknya barang bekas di dalam rumah menjadi kendala tersendiri dalam proses pendinginan. Sisa material yang terbakar membuat lantai rumah masih menyimpan panas meski api telah dipadamkan.

“Di dalam banyak barang bekas, sehingga lantainya masih panas saat proses pendinginan,” tuturnya.

Proses pemadaman berlangsung kurang lebih satu jam hingga api berhasil dikendalikan sepenuhnya. Selama proses tersebut, petugas terus memastikan tidak ada titik api yang berpotensi memicu kebakaran ulang.

“Pemadaman berlangsung sekitar satu jam dengan tambahan suplai air,” ujarnya.

Terkait penyebab kebakaran, hingga kini belum dapat dipastikan. Dugaan sementara masih terbuka, mengingat kondisi rumah yang kosong memungkinkan adanya aktivitas pihak luar, termasuk anak-anak yang masuk ke area tersebut.

“Penyebab pastinya belum diketahui, dugaan bisa saja karena aktivitas orang luar,” katanya.

Ia menambahkan, secara umum tidak ada kendala berarti selain faktor akses menuju lokasi yang cukup sulit. Medan yang terjal menjadi tantangan utama dalam proses penanganan di lapangan. “Kendala utama hanya akses yang terjal,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *