Minim Teknisi, Perbaikan Movable Bridge Pelabuhan Juata Terkendala

benuanta.co.id, TARAKAN – Ketiadaan teknisi khusus menjadi kendala utama dalam upaya perbaikan movable bridge (MB) di Pelabuhan Penyeberangan Juata, Kota Tarakan. Akibatnya, kerusakan jembatan hidrolik tersebut belum dapat ditangani secara maksimal hingga kini.

Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Juata, Firmansyah, mengungkapkan pihaknya masih kesulitan menemukan tenaga ahli yang mampu menangani kerusakan MB di wilayah Tarakan.

“Kendala utama memang tidak adanya teknisi khusus yang bisa menangani MB. Kami sudah mencari di Tarakan, tapi belum ada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kerusakan terjadi pada bagian seal silinder hidrolik yang menyebabkan jembatan tidak dapat berfungsi. Padahal, MB merupakan fasilitas vital dalam proses bongkar muat penumpang dan kendaraan kapal ferry.

Firmansyah memastikan, dari sisi anggaran tidak menjadi persoalan. Setiap tahun, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk perawatan rutin, seperti penggantian oli dan pemeliharaan berkala fasilitas pelabuhan.

“Kalau anggaran ada, tiap tahun dianggarkan untuk perawatan rutin,” jelasnya.

Guna mengatasi keterbatasan teknisi, pihaknya telah mengajukan permintaan bantuan kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Namun, proses tersebut masih menunggu tindak lanjut.

“Kami sudah kirim surat untuk minta support teknisi dari PT ASDP, tapi mungkin belum sampai ke kepala perwakilan,” katanya.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perhubungan Kota Tarakan serta pelabuhan lain seperti Sebatik yang pernah mengalami kerusakan serupa, guna mencari solusi penanganan yang tepat.

Di sisi lain, Kepala Perwakilan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Balikpapan wilayah Tarakan, Abd. Gafur, menyatakan pihaknya siap membantu jika diminta secara resmi.

“Kalau ada surat resmi, kami siap kirim teknisi untuk membantu perbaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, selama kerusakan berlangsung, operasional pelabuhan tetap berjalan dengan penyesuaian. Kapal hanya dapat melakukan aktivitas bongkar muat saat kondisi air memungkinkan.

“Jadwal kita sesuaikan dengan pasang surut air. Ini tentu mengganggu pengguna jasa,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, pelabuhan melayani sekitar 200 penumpang per hari, serta puluhan kendaraan roda dua dan roda empat. Meski tidak disebut berdampak signifikan terhadap ekonomi, keterlambatan tetap dirasakan, terutama dalam distribusi barang.

Firmansyah berharap dukungan teknisi dapat segera terealisasi agar perbaikan bisa dilakukan secepatnya dan pelayanan kembali normal. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *