benuanta.co.id, TARAKAN – Pelaksanaan Operasi Ketupat Kayan 2026 di Tarakan mencatat sejumlah dinamika, mulai dari perubahan pola kriminalitas hingga munculnya kejadian kebakaran hutan dan lahan selama periode pengamanan Lebaran. Sejumlah kasus menunjukkan pergeseran tren dibanding tahun sebelumnya dan menjadi perhatian dalam evaluasi pengamanan.
Kapolres Tarakan AKBP Erwin S. Manik, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas IPTU Rusli mengungkapkan secara umum kondisi wilayah tetap terkendali selama operasi berlangsung. “Secara umum situasi kamtibmas selama Operasi Ketupat Kayan 2026 berada dalam kondisi aman dan kondusif,” ungkapnya, Sabtu (28/3/2026).
Data menunjukkan sejumlah kasus mengalami penurunan, seperti penganiayaan dari 3 kasus pada 2024 menjadi 1 kasus pada 2025 dan tetap 1 kasus pada 2026. Kasus narkotika dari 1 kasus pada 2024 naik menjadi 3 pada 2025 lalu turun menjadi 1 pada 2026, pencurian dari 3 menjadi 1 lalu tetap 1, serta pemerkosaan dari 3 menjadi 1 dan tetap 1 kasus.
“Beberapa jenis kejahatan mengalami penurunan yang cukup signifikan,” jelasnya.
Namun demikian, terdapat peningkatan pada beberapa jenis kasus, seperti penganiayaan berat yang sebelumnya nihil pada 2024 dan 2025 menjadi 3 kasus pada 2026, penipuan dari nihil menjadi 1 kasus, serta KDRT dari nihil menjadi 1 kasus.
“Ada beberapa kasus yang mengalami peningkatan, seperti penganiayaan berat dan penipuan,” terangnya.
Secara total, jumlah gangguan kamtibmas tercatat 10 kasus pada 2024, turun menjadi 6 kasus pada 2025, dan naik menjadi 9 kasus pada 2026. “Walaupun ada kenaikan dibanding 2025, angka ini masih lebih rendah dibanding 2024,” katanya.
Dalam bidang lalu lintas, jumlah kecelakaan mengalami penurunan signifikan dari 4 kejadian pada 2024 dan 2025 menjadi hanya 1 kejadian pada 2026. Jumlah korban juga menurun dari 8 orang pada 2025 menjadi 1 orang pada 2026, dengan tidak ada korban meninggal dunia pada 2026.
“Penurunan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas,” ujarnya.
Korban luka ringan turun dari 6 orang pada 2025 menjadi 1 orang pada 2026, dan tidak terdapat luka berat pada 2026 setelah sebelumnya terdapat 1 kasus pada 2025. Kerugian material tercatat relatif stabil yakni Rp1.500.000 pada 2024, Rp1.600.000 pada 2025, dan kembali Rp1.500.000 pada 2026.
“Kerugian material tidak mengalami perubahan signifikan,” tambahnya.
Sementara itu, pada sektor bencana, terjadi peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari nihil pada 2024 dan 2025 menjadi 2 kejadian pada 2026. Salah satu kejadian terjadi pada 22 Maret 2026 di belakang SMPN 10 Tarakan dengan luas sekitar 40×100 meter, dan satu lagi pada 25 Maret 2026 di wilayah Kampung Skip dengan luas sekitar 3 hektare.
“Kedua kejadian karhutla berhasil ditangani dan api telah dipadamkan,” imbuhnya.
Dengan berakhirnya Ops Ketupat Kayan 2026, Polres Tarakan menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat serta unsur terkait yang telah berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban selama periode Lebaran, sehingga situasi tetap kondusif meskipun terdapat beberapa dinamika kejadian.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan pihak yang terlibat, karena dengan kerja sama ini situasi kamtibmas tetap aman dan terkendali,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







