benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab munculnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belakangan ini di Kota Tarakan dipicu oleh kemunculan hotspot yang didukung kondisi permukaan tanah yang cepat mengering.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir sempat terdeteksi satu titik hotspot di wilayah Tarakan. Meski hanya satu titik dan tidak meluas, kondisi tersebut tetap menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Beberapa hari terakhir sempat ada hotspot di Tarakan, satu titik saja. Itu yang menjadi indikasi adanya potensi kebakaran,” sebutnya, Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, karakteristik wilayah Tarakan yang secara umum memiliki hujan sepanjang tahun tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran. Justru, dalam kondisi tanpa hujan selama beberapa hari, permukaan tanah menjadi sangat rentan untuk terbakar.
“Kalau tidak ada hujan tiga sampai empat hari, tanah di permukaan cepat kering. Ini yang memicu potensi kebakaran hutan dan lahan, walaupun di permukaan saja,” jelasnya.
Sementara itu, kondisi panas yang dirasakan masyarakat belakangan ini juga berperan dalam mempercepat proses pengeringan tanah. Penyinaran matahari yang tinggi, baik ke daratan maupun perairan, meningkatkan suhu permukaan dan mempercepat penguapan dan pembentukan awan.
Kendati demikian, kondisi tersebut bersifat sementara. BMKG mencatat hujan yang terjadi pada malam hari mampu menekan potensi hotspot.
“Setelah tadi malam terjadi hujan, hari ini sudah tidak ada hotspot. Kondisi cuaca juga sudah mulai normal kembali,” ungkapnya.
Ia menyebut saaat ini, kondisi cuaca di Tarakan terpantau normal dengan jarak pandang mencapai 10 kilometer dan suhu sekitar 32 derajat Celcius. BMKG juga masih melihat adanya peluang hujan, meskipun dengan intensitas ringan.
“Kondisi sudah berangsur normal, ada peluang hujan walaupun tidak tinggi,” tambahnya.
BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama jika terjadi beberapa hari tanpa hujan, karena kondisi tersebut dapat kembali memicu munculnya hotspot dan potensi kebakaran lahan. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







