benuanta.co.id, TARAKAN – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap anak buah kapal (ABK) Speed Habibi yang terjatuh di Sungai Sesayap, Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, resmi dihentikan pada hari ketujuh, Rabu, 25 Maret 2026, setelah upaya pencarian tidak membuahkan hasil.
Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril, S.E., megungkapkan keputusan penghentian operasi diambil setelah seluruh upaya pencarian dilakukan secara maksimal oleh tim SAR gabungan. Ia menegaskan bahwa pencarian pada hari terakhir tetap berjalan optimal.
“Pencarian hari ketujuh tetap kami lakukan dengan penyisiran visual di area Sungai Sesayap, namun hasilnya masih nihil,” ungkapnya, Rabu (25/3/2026).
Syahril menjelaskan pada hari ketujuh, tim SAR gabungan melaksanakan pencarian dengan metode visual di sekitar lokasi kejadian perkara (LKP). Namun hingga pukul 15.45 WITA, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Ia menegaskan bahwa hasil tersebut menjadi pertimbangan penting dalam evaluasi operasi.
“Hasil pencarian hingga sore hari masih nihil dan tidak ditemukan tanda-tanda korban,” jelasnya.
Setelah hasil pencarian dinyatakan nihil, tim SAR melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban terkait kelanjutan operasi. Dalam hasil koordinasi tersebut, keluarga korban menyatakan menerima kondisi yang ada dan menyetujui penghentian operasi SAR. Syahril menegaskan bahwa keputusan ini diambil secara bersama dan berdasarkan pertimbangan kemanusiaan.
“Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak keluarga, operasi SAR diusulkan untuk dihentikan dan dinyatakan selesai,” katanya.
Pada pukul 16.00 WITA, tim SAR gabungan melaksanakan debriefing sebagai bagian dari prosedur penutupan operasi. Seluruh unsur yang terlibat kemudian dikembalikan ke satuannya masing-masing setelah operasi dinyatakan selesai. Syahril menegaskan bahwa seluruh tahapan penutupan dilakukan sesuai standar.
“Operasi SAR dinyatakan selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke kesatuannya masing-masing,” ujarnya.
Korban dalam kejadian ini diketahui bernama Firman (25), warga Kabupaten Tana Tidung, yang hingga akhir operasi dinyatakan masih hilang. Selama tujuh hari pelaksanaan operasi SAR, berbagai upaya pencarian telah dilakukan secara intensif oleh tim gabungan. Syahril menegaskan bahwa seluruh potensi telah dikerahkan.
“Seluruh upaya pencarian telah kami lakukan secara maksimal selama tujuh hari operasi,” terangnya.
Operasi SAR ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya Kantor SAR Tarakan, BPBD Kabupaten Tana Tidung, Brimob Tana Tidung, Polairud Polres Tana Tidung, Pos TNI AL Bebatu, Bhabinkamtibmas Polsek Sesayap, serta keluarga dan masyarakat. Sinergi antarinstansi menjadi faktor penting dalam pelaksanaan pencarian.
“Seluruh unsur SAR yang terlibat bekerja secara terpadu selama operasi berlangsung,” bebernya.
Dalam pelaksanaan operasi, tim SAR didukung oleh sejumlah peralatan seperti Rescue Dimex, rigid buoyancy boat, perlengkapan medis, serta alat komunikasi. Kondisi cuaca selama operasi berlangsung dilaporkan cerah dan tidak terdapat hambatan berarti. Syahril menegaskan bahwa kondisi tersebut mendukung jalannya operasi meski hasilnya belum sesuai harapan.
“Cuaca cerah dan tidak ada faktor penghambat selama operasi berlangsung,” tuturnya.
Lebih lanjut, Syahril menerangkan penghentian operasi SAR setelah tujuh hari merupakan bagian dari prosedur standar yang berlaku. Meski demikian, operasi dapat dibuka kembali apabila terdapat informasi baru terkait keberadaan korban. Ia menegaskan bahwa kemungkinan tersebut tetap terbuka.
“Sesuai standar operasi SAR, pencarian dilaksanakan selama tujuh hari dan dapat dibuka kembali apabila ada laporan atau tanda-tanda keberadaan korban,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







