benuanta.co.id, NUNUKAN – Keluhan penumpang muncul di Pelabuhan Ferry Sungai Jepun, Nunukan, Kalimantan Utara, menyusul cepat habisnya tiket penyeberangan yang dinilai tidak transparan dan membingungkan. Sejumlah calon penumpang mengaku kesulitan mendapatkan tiket meski telah datang lebih awal ke lokasi.
Salah satu penumpang, Rusniyati, mengaku kebingungan dengan sistem penjualan tiket yang dinilai tidak jelas. Ia menyebut tiket sudah habis bahkan sebelum waktu penjualan yang biasa. “Kami bingung juga, biasanya tiket dibuka jam 4.30 atau lima sore, tapi ini kita tiba dari jam 1 sudah dinyatakan habis,” ungkapnya, Rabu (25/3/2026).
Rusniyati juga mempertanyakan bagaimana tiket bisa habis lebih cepat, sementara penumpang tidak mendapatkan akses informasi yang memadai. Ia menilai ada ketidakjelasan dalam proses distribusi tiket kepada calon penumpang. “Kami bingung orang-orang itu dapat info dari mana, sedangkan kita dilarang masuk ke gedung loket oleh petugas,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti tidak adanya kejelasan terkait jumlah kuota tiket yang tersedia. Menurutnya, kondisi di lapangan tidak mencerminkan bahwa tiket benar-benar telah habis terjual. “Kalau dilihat kuotanya juga tidak jelas berapa, karena biasanya apalagi musim Lebaran seperti ini kendaraan di parkiran lebih banyak, tapi sekarang ini kita lihat kendaraan bahkan orang-orang pun tidak begita banyak,” tukasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan penumpang lainnya, Bahar, yang menyoroti sistem penjualan tiket di Nunukan yang dinilai masih tertinggal dibanding daerah lain. Ia menilai pelayanan tiket belum memberikan kepastian bagi penumpang.
“Ini sistemnya agak kurang, karena kalau dibandingkan dengan Tarakan itu bisa dibeli secara online,” ujarnya.
Menurutnya, tidak adanya sistem pembelian tiket secara online membuat penumpang harus datang langsung ke lokasi tanpa jaminan mendapatkan tiket. Hal ini dinilai menyulitkan, terutama bagi penumpang yang datang dari luar daerah. “Di sini sudah tidak bisa dibeli secara online juga, jadi kita menunggu tanpa kepastian,” katanya.
Ia juga menyoroti tidak adanya informasi jelas mengenai jadwal pembukaan loket maupun jumlah kuota tiket yang tersedia setiap harinya. Kondisi ini membuat penumpang harus menunggu dalam waktu lama tanpa kejelasan. “Tidak dikasih kepastian loketnya kapan buka, kuotanya berapa, jadi kita seakan-akan menunggu tanpa kepastian,” ujarnya.
Selain itu, Bahar mengeluhkan kondisi penumpang yang harus menunggu sejak sore hari di tengah cuaca panas hanya untuk mendapatkan tiket. Menurutnya, situasi ini sangat tidak nyaman bagi calon penumpang. “Dari sore kita sudah menunggu, panas-panasan, tapi belum tentu dapat tiket,” katanya.
Ia berharap ke depan ada perbaikan sistem, khususnya dengan menghadirkan kembali layanan pembelian tiket secara online agar lebih memudahkan masyarakat. Menurutnya, jumlah penumpang yang terus meningkat harus diimbangi dengan sistem yang lebih baik.
“Kalau bisa ada tiket online yang lebih bagus lagi, apalagi penumpang sekarang banyak, bukan hanya dari Nunukan tapi juga dari Sebatik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







