Hilal 1 Syawal Belum Terlihat di Kota Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Hasil pemantauan hilal di Kota Tarakan menunjukkan bahwa bulan sabit penanda awal Syawal tidak terlihat.

Kondisi ini dipengaruhi faktor cuaca hingga posisi hilal yang belum memenuhi kriteria astronomi, sehingga penetapan Hari Raya Idulfitri masih menunggu keputusan sidang isbat pemerintah pusat.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi menjelaskan, secara perhitungan posisi hilal di wilayah Tarakan berada di kisaran dua derajat. Namun secara visual, hilal tidak dapat diamati karena kondisi ufuk tertutup awan tebal.

“Kalau di sini secara hitungan itu dua derajat. Namun yang kita saksikan saat ini kondisi cuacanya tidak memungkinkan, ufuknya berawan tebal, jadi tidak bisa kelihatan di sini,” ujarnya, seusai memantau hilal di Satrad 225 Tarakan, Kamis (19/3/2026).

Ia menegaskan, BMKG tidak memiliki kewenangan dalam menentukan awal Lebaran. Data yang dihimpun hanya bersifat teknis untuk menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat.

Baca Juga :  Parade Musik Sahur 2026 Tarakan Meriah, Ratusan Peserta Ramaikan Jalan Kota

“BMKG tidak punya  kewenangan untuk merilis kapan Lebaran. Kita hanya mendukung secara teknis sebagai bahan sidang isbat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan, H. Syopyan menyampaikan, rukyatul hilal dilakukan serentak di 117 titik di seluruh Indonesia, termasuk di Tarakan.

Dari hasil pengamatan, seluruh tim perukyat di Tarakan tidak berhasil melihat hilal hingga batas waktu pengamatan.

“Sampai dengan pengamatan terakhir, kita tidak melihat hilal pada hari ini,” katanya.

Ia menjelaskan, selain faktor cuaca berawan, secara astronomi posisi hilal di Tarakan juga masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan pemerintah melalui kesepakatan MABIMS.

“Ketinggian hilal di Tarakan masih sekitar dua derajat dengan elongasi 5,1 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS, yakni minimal tiga derajat dan elongasi 6,4 derajat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tarakan Waspada Banjir Rob Jelang Lebaran

Hasil pemantauan tersebut, lanjutnya, akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan dalam sidang isbat nasional yang menentukan awal Syawal.

“Keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan pemerintah pusat,” tambahnya.

Kemenag juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan di tengah potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri.

“Perbedaan itu adalah hal yang biasa dan menjadi kekayaan dalam umat Islam. Mari kita jaga silaturahmi dan kerukunan,” pesannya.

Di sisi lain, Wali Kota Tarakan, Khairul menambahkan, selain cuaca, faktor geografis juga memengaruhi tingkat kesulitan pengamatan hilal di Tarakan.

“Selain berawan, posisi Tarakan ini juga terhalang daratan Kalimantan, jadi tingkat kesulitannya cukup tinggi untuk melihat hilal,” tuturnya.

Ia memastikan hasil pemantauan di daerah akan dilaporkan ke pusat untuk dikompilasi dengan hasil dari wilayah lain di Indonesia, termasuk daerah yang memiliki peluang lebih besar melihat hilal seperti Aceh.

Baca Juga :  Pelabuhan Tengkayu I Tarakan Perketat Pengawasan Praktik Calo Tiket di Momen Mudik Lebaran

Terkait pelaksanaan takbiran, Khairul mengungkapkan kemungkinan pawai takbiran tidak digelar mengingat waktu pengumuman yang relatif malam serta kesiapan masyarakat.

“Mungkin takbiran cukup dilaksanakan di masjid saja. Karena kalau dipaksakan pawai, waktunya sudah terlalu malam dan persiapan juga belum maksimal,” jelasnya.

Menurutnya, pawai takbiran hanyalah bagian dari tradisi, sementara yang utama adalah pelaksanaan ibadah.

“Yang terpenting adalah ibadahnya, yakni salat Idulfitri. Pawai itu hanya bagian dari kemeriahan saja,” tegasnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat Tarakan kini tinggal menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat untuk memastikan kapan Hari Raya Idulfitri akan dirayakan. (*) 

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina 

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *