benuanta.co.id, TARAKAN – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Tarakan tahun ini mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti satu dunia, satu keluarga, sebagai penguat nilai toleransi antarumat beragama.
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tarakan, I Nengah Pariana menjelaskan, tema tersebut menegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari Tuhan yang sama.
“Maknanya kita semua di dunia ini adalah satu keluarga. Tidak perlu ada permusuhan, harus saling menghargai,” ujarnya.
Ia menekankan, perbedaan agama hanyalah jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. “Agama itu hanya cara dan strategi menuju Tuhan. Jalannya bisa berbeda-beda, tetapi tujuannya sama,” jelasnya.
Terkait beredarnya isu benturan antara Nyepi dan Idulfitri, ia memastikan secara kalender tidak terjadi tumpang tindih. “Kalau dilihat dari kalender, Nyepi tanggal 19, Idulfitri tanggal 20 dan 21. Tidak bertabrakan,” tegasnya.
Kendati demikian, ia mengakui terdapat potensi kedekatan waktu dengan pelaksanaan takbiran, khususnya bagi Muhammadiyah yang bertepatan pada malam Jumat.
“Nyepi hari Kamis, sementara Muhammadiyah takbiran malam Jumat. Di Bali sudah disepakati tidak ada takbiran keliling, hanya di masjid masing-masing,” ungkapnya.
Takbiran pun tetap diperbolehkan dengan penyesuaian, yakni menggunakan pengeras suara di dalam masjid saja. Untuk wilayah Tarakan, ia menilai kondisi tersebut tidak terlalu berdampak karena jumlah umat Hindu relatif kecil.
“Umat Hindu di Tarakan ini sekitar 0,7 persen. Pusat kegiatan juga di Pasir Putih, di pura, jumlahnya tidak sampai 50 orang,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap mengedepankan toleransi, khususnya bagi rumah ibadah yang berdekatan dengan pura.
“Kita akan himbau masjid terdekat seperti Masjid As-Syuhada dan Masjid Baiturrahman di Pasir Putih agar sound system-nya dikecilkan, tidak menggunakan suara luar,” jelasnya.
Ia menambahkan, hal ini penting karena lokasi pura yang digunakan bersifat terbuka, sehingga suara dari luar dapat langsung terdengar.
“Pura itu kan outdoor, jadi suara pasti sangat sampai. Maka kita jaga agar tetap kondusif,” tegasnya.
Kesepakatan tersebut merupakan hasil koordinasi bersama FKUB sebagai wadah menjaga kerukunan antarumat beragama. “Sudah, kita selalu seperti itu, menjaga toleransi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







