benuanta.co.id, TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah kegiatan tingkat nasional Borneo National Business Plan A Competition 2025 yang di gelar pada Senin, 25 Agustus 2025.
Acara ini berlangsung selama dua hari dengan rangkaian presentasi, pameran teknologi, hingga bazar yang melibatkan mahasiswa maupun pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Ketua Panitia, Shelyna Nur’ Aini menyampaikan, kompetisi ini digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) RPI dan UKM Start Up yang berkolaborasi langsung. Ia menjelaskan, hari pertama difokuskan untuk presentasi peserta dan pameran teknologi, sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan field trip ke sejumlah lokasi di Kota Tarakan.
“Hari ini ada presentasi peserta, lalu ada pameran teknologi dari fakultas teknik, ada juga bazar di halaman rektorat,” ungkapnya, Senin (25/8/2025).
Dalam pameran teknologi tersebut, sekitar tujuh fakultas di UBT menampilkan hasil karya mahasiswa. Fakultas teknik, seperti teknik mesin, elektro, sipil, dan komputer, turut memamerkan hasil penelitian dan inovasi laboratorium. Menurutnya, pameran ini menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi riset mahasiswa UBT kepada masyarakat luas.
Selain itu, kegiatan juga menghadirkan bazar yang terbuka bagi mahasiswa maupun pihak mandiri. Mahasiswa UBT bebas mendaftarkan diri untuk membuka stand penjualan produk. Hal ini, kata Shelyna, menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap semangat kewirausahaan mahasiswa.
Untuk lomba utama, ada 22 finalis dengan total sembilan tim yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka berasal dari Universitas Padjadjaran, Universitas Politeknik Bisma, Universitas Kaltara, Universitas Tidar, hingga Universitas Tarakan sendiri. Finalis yang lolos merupakan tim terbaik hasil seleksi proposal dari berbagai daerah.
Shelyna berharap ajang ini tidak hanya berhenti pada tahun ini, melainkan bisa menjadi agenda tahunan. Selain memberi ruang kreativitas bagi mahasiswa, kompetisi ini juga sekaligus mempromosikan Kota Tarakan di tingkat nasional. “Dukungan dari pemerintah kota maupun provinsi sangat diharapkan, karena kegiatan ini bisa mengangkat nama UBT sekaligus daerah,” jelasnya.
Di antara para finalis, tim dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) menarik perhatian dengan gagasan pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi biopackaging ramah lingkungan. Salah satu anggota tim, Aini Alfatihaturizki, menjelaskan, selama ini limbah sawit di daerahnya hanya dibakar tanpa pengelolaan lebih lanjut.
“Kami memikirkan limbah tandan kosong sawit ini bisa diolah menjadi produk biopackaging untuk menggantikan stereofom yang sulit terurai,” tuturnya.
Ia menerangkan, prototipe yang dikembangkan masih sederhana dan belum maksimal, namun sudah menunjukkan potensi besar. Produk tersebut dibuat dengan tahapan pencacahan limbah, sterilisasi dengan suhu tinggi, kemudian dicampur dengan bibit miselium jamur. Dari proses itu, jamur berfungsi sebagai pengikat hingga terbentuk cetakan yang kemudian dikeringkan menggunakan oven.
Produk biopackaging ini masih berupa alas wadah buah, belum seperti stereofom makanan yang memiliki penutup. Meski demikian, Aini menegaskan bahwa inovasi ini bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi limbah pertanian dan emisi karbon. “Kami memang masih dalam tahap pengembangan, tapi harapannya produk ini bisa mendukung ekonomi sirkular dan menjaga lingkungan,” katanya.
Dari sisi harga, produk yang mereka tawarkan diklaim bisa lebih terjangkau dibandingkan kemasan ramah lingkungan sejenis yang sudah ada di pasaran. Dengan produksi 100 unit, harga dipatok Rp1.300 per pieces, sementara jika dibeli satuan bisa mencapai Rp2.000. Hal ini diyakini lebih kompetitif dibandingkan produk lain seperti bagasse foam atau pati tuber foam yang harganya masih tinggi.
Tim UNPAD tersebut masih terbatas pada skala pengembangan di tingkat UMKM dan belum memasarkan produk secara luas. Saat ini, ide tersebut baru dikomunikasikan kepada pihak kampus, namun mereka berharap dapat menjalin kerjasama lebih lanjut dengan pemerintah maupun pelaku industri agar bisa diproduksi massal.
“Motivasi kami berawal dari keprihatinan melihat limbah sawit yang dibiarkan begitu saja. Kami ingin menghadirkan solusi ramah lingkungan yang bermanfaat sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” tambah Aini.
Melalui ajang ini, ide-ide inovatif dari mahasiswa berbagai daerah diharapkan mampu melahirkan terobosan bisnis sekaligus solusi nyata bagi permasalahan di masyarakat.
Bagi UBT sendiri, keberhasilan menjadi tuan rumah juga menjadi langkah penting untuk memperkenalkan kampus dan Kota Tarakan ke tingkat nasional. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli






