benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan terus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, mengingat jumlah pengidapnya menjadi yang tertinggi di Provinsi Kalimantan Utara.
Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan menunjukkan temuan kasus baru di tahun 2025, memicu kekhawatiran dan perlunya penguatan edukasi serta perlindungan sosial.
Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Tarakan, Alghi Fari Smith, S.ST., menegaskan Tarakan merupakan penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Kaltara.
“Saya mengutip pernyataan dari Bang Agus Suwandy, eks Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltara, ODHA terbanyak ada di Tarakan,” ujarnya kepada benuanta.co.id, Senin (14/7/2025).
Ia menambahkan sejumlah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di Tarakan mengalami kondisi Lost to Follow Up (LFU), yaitu hilang dari pemantauan layanan.
“Dengan kata lain ODHA menghilang dari lokus sasaran sehingga petugas tidak bisa pantau dan berikan pendampingan pengobatan. Ini berbahaya jika mereka masih melakukan seks berisiko,” bebernya.
Lebih lanjut, Fari mengungkap data menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok laki-laki seks dengan lelaki (LSL).
Berdasarkan data Dinkes Tarakan per 11 September 2024 yang dikutip dari Benuanta, ditemukan 66 kasus HIV baru, dan 26 di antaranya berasal dari kelompok homoseksual.
“Saya melihat ini relevan dengan referensi yang menyebutkan awalnya HIV/AIDS dikenal sebagai GRID, gay related immune deficiency. LGBT terutama gay berpotensi besar terkena HIV/AIDS,” paparnya.
Selain aspek kesehatan, Fari juga menyinggung dinamika sosial di balik isu LGBT di Tarakan, termasuk insiden kekerasan yang terjadi.
Ia juga turut menyebutkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan telah membentuk tim pencari fakta untuk mendalami fenomena tersebut.
“Ada seorang remaja laki-laki yang terbunuh di belakang Islamic Center karena berkelahi rebutan laki-laki. Ini menunjukkan fenomena LGBT di Tarakan nyata adanya,” ungkapnya.
Fari juga memberi perhatian khusus pada risiko kekerasan terhadap individu yang berusaha keluar dari lingkungan LGBT. Ia mengajak masyarakat melapor ke Sahabat Saksi dan Korban (SSK) di nomor 081220596432.
“Bisa jadi ada fenomena orang yang mau keluar dari lingkaran LGBT mendapatkan ancaman kekerasan yang membahayakan jiwa. Saya himbau siapa pun yang melihat atau mengalami kekerasan, berani bicara dan lapor,” terangnya.
Sebagai Sahabat Saksi dan Korban Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI, Fari menekankan pentingnya perlindungan psikososial.
“Kami terus melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat agar paham tentang HIV dan tidak mendiskriminasi ODHA. Perlu diingat, kita tidak membenci orangnya, tapi perilakunya,” jelasnya.
Meski begitu, Fari mengingatkan stigma sosial terhadap ODHA bisa lebih mematikan dari virus HIV itu sendiri. “Sering kita lihat ODHA terusir dari lingkungan bahkan sampai bunuh diri karena stigma. Artinya apa? HIV/AIDS memang belum ada obatnya, tapi yang lebih bahaya adalah diskriminasi yang menghancurkan mental dan semangat hidup ODHA,” tuturnya.
Ia pun berharap masyarakat dapat membangun empati dan penerimaan yang lebih baik. “Prinsip setiap individu itu unik, non-diskriminatif, no judge mental, harus jadi ruh dalam pendampingan. ODHA perlu dukungan psikososial agar tetap semangat menjalani hidup,” sebut Fahri.
Tanggapan masyarakat pun beragam, sebagian besar menyayangkan masih tingginya stigma. Ratna (25), warga Kelurahan Sebengkok, mengaku kaget ketika mengetahui sebagian besar kasus HIV melibatkan sesama jenis.
Meski begitu, ia juga merasa kasihan kepada para ODHA. Ia merasa prihatin karena mereka malah dikucilkan.
“Saya awalnya mengira HIV cuma dari narkoba atau hubungan bebas biasa. Tapi waktu tahu datanya banyak dari sesama jenis, saya sempat takut,” ujarnya.
Sementara itu, Ilham (25), warga Gunung Lingkas, menilai tegas perilaku penyimpangan seksual adalah sumber masalah utama.
“Itu menyimpang, wajar kalau masyarakat menjauhi,” singkatnya.
Komentar-komentar warga tersebut mencerminkan kompleksitas penanganan isu HIV/AIDS di Kota Tarakan. Edukasi dan pemahaman yang benar sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk pencegahan penularan HIV, tetapi juga untuk memerangi stigma yang justru bisa memperburuk keadaan para pengidapnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







