benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Tarakan mencatat penurunan signifikan dalam jumlah penyalahguna narkotika hingga pertengahan tahun 2025. Dibandingkan dengan tahun 2024 yang mecapai 500 hingga 550 kasus penyalahgunaan, tahun ini hanya sekitar 30 orang yang diamankan dari berbagai titik rawan.
Meski demikian, BNN tetap siaga karena sejumlah wilayah terindikasi mengalami kemunculan kembali para pemain lama.
Kepala BNN Kota Tarakan, Evon Meternik, mengatakan, daerah-daerah rawan yang selama ini menjadi fokus utama operasi kini menunjukkan tren positif.
“Wilayah rawan jauh ini, hasil pantauan kita menurun sampai 90 persen,” jelasnya kepada benuanta.co.id, Rabu (18/6/2025).
Ia menyebut penurunan ini sebagai hasil dari pengawasan ketat serta kerja sama antara aparat dan masyarakat setempat. Namun, penurunan itu bukan tanpa konsekuensi.
Evon mengungkapkan sejumlah ketua RT melaporkan adanya gejala kemunculan kembali aktivitas mencurigakan di beberapa wilayah.
“Banyak wilayahnya yang mulai tumbuh kembali, ada mantan residivis dan beberapa penjual lama yang sekarang mulai kambuh,” katanya.
Menurut Evon, pertengahan tahun ini BNN telah mengamankan sekitar 30 orang dari penyalahgunaan narkotika. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibanding tahun lalu.
“Kalau tahun kemarin ada sekitar 500 sampai 550-an orang (penyalahguna) hasil operasi, tahun ini kita belum banyak menangani kasus langsung,” jelasnya.
Fokus saat ini lebih diarahkan pada pencegahan di titik-titik rawan yang berpotensi digunakan kembali sebagai lokasi transaksi. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Kelurahan Selumit Pantai.
Evon menyebut daerah ini masih menjadi titik sensitif yang mulai menunjukkan gejala pergerakan terselubung. “Target kita, nanti di Kelurahan Selumit Pantai itu tidak ada lagi transaksi. Itu harapan kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengedar masih menggunakan modus lama, seperti menyelundupkan narkoba melalui lubang-lubang tertentu. Evon juga mengungkapkan para pelaku cenderung berpindah lokasi. “Informasi dari masyarakat, awalnya di Selumit Pantai, sekarang bergeser ke belakang BRI dengan modus yang sama,” katanya.
Laporan masyarakat ini langsung ditindaklanjuti oleh tim BNN, yang kemudian memperketat pengawasan di titik-titik yang dicurigai menjadi tempat transaksi baru. Selain Selumit, wilayah lain seperti Sebengkok dan Lingkas Ujung juga mulai terindikasi.
“Bukan cuma warga Selumit, mereka menyebar, ada yang di Sebengkok dan Lingkas Ujung,” ujarnya.
Sebagian besar pelaku merupakan pemain lama, meskipun ada pula beberapa pemain baru yang didorong oleh faktor ekonomi. Terkait strategi penindakan, Evon menjelaskan BNN Tarakan saat ini mengikuti arahan langsung dari BNN RI. Skema patroli yang dulunya menyeluruh kini difokuskan pada target penjual dan pengendali jaringan.
“Sesuai perintah pusat, kita sekarang fokus mengarah ke pengendalinya atau akarnya,” sebutnya.
Tim khusus BNN Tarakan kini digabungkan dalam koordinasi langsung di bawah Kepala BNN RI. Evon menegaskan semua laporan dari masyarakat akan selalu ditindaklanjuti. Ia mencontohkan salah satu laporan tentang adanya transaksi narkoba di sekitar Baznas yang langsung direspons timnya.
“Berdasarkan laporan itu langsung kita tindaklanjuti,” tuturnya.
BNN menilai partisipasi masyarakat sangat krusial dalam memetakan dan mencegah kebangkitan kembali peredaran gelap narkotika. Dengan penurunan angka penyalahguna yang drastis dan pergeseran strategi ke arah pemberantasan akar peredaran, BNN Tarakan tetap mengimbau masyarakat untuk terus aktif melapor jika menemukan indikasi penyalahgunaan.
“Ini bukan soal berapa yang kita tangkap, tapi bagaimana kita bisa cegah mereka tumbuh lagi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







