benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Luter warga Desa Bebakung, diduga merengang nyawa setelah diserang seekor buaya saat hendak mencuci kaki di Sungai Supa, Jalan Poros Desa Bebatu.
Menurut Kepala Desa (Kades) Bandan Bikis, Yuliansyah, buaya yang menyerang warga ini bukan pertama kalinya terjadi di desanya. Kejadian serupa sudah sering terjadi di kawasan itu. Sejak dulu pula, sungai tersebut disebut-sebut sebagai sarang buaya.
“Kita hitung dari dulu-dulunya lagi ya, sudah sering kejadian di sini. Karena dari dulu sampai sekarang kan, kawasan ini memang sarang buaya,” kata Yuliasnyah kepada benuanta.co.id, Kamis (17/2/2022).
Menurut Yuliansyah, sejak jaman dulu suku Tidung mempercayai kematian manusia yang dimakan buaya bukan didasari oleh rasa lapar buaya atau sang predator merasa perairannya terusik. Melainkan karena adanya pantangan-patangan tertentu yang dilanggar oleh korban.
“Ini kepercayaan orang dulu di sini, jika hendak memancing atau bermain di sungai. Maka jangan berani menolak makanan, karena nanti bisa berakibat buruk, biasanya kami bilang kepuhunan” ungkap Yuliansyah.
Tidak hanya mitos mengabaikan makan dan minum yang kerap disebut kepuhunan oleh warga setempat. Kata Yuliansah, mitos Sisik ternyata juga sangat kental di kalangan suku Tidung, terkait kematian manusia akibat buaya.
Konon, mitos-mitos ini begitu sangat dipercayai oleh warga setempat sejak dulu. Mitos Sisik tak lain merupakan kepercayaan warga sekitar adanya bawaan lahir yang menandakan seseorang orang sudah ditakdirkan untuk mati dimakan buaya.
“Tanda-tanda seperti itu biasanya hanya bisa dilihat oleh orang tertentu saja. Dan memang benar, setiap orang yang memiliki Sisik itu, kalau bermain ke sungai pasti diikuti oleh buaya. Padahal di sungai banyak orang. Tapi pasti orang yang punya tanda itu saja yang jadi sasaran buaya. Makanya warga dulu sangat percaya dengan mitos itu,” jelasnya.
“Makanya kita suka waktu kecil pasti dilakukan ritual melepas Sisik terlebih dahulu. Dengan harapan kita tidak mati dimakan buaya. Makanya jangan heran kalau orang Tidung dulu itu kerjanya menangkap buaya sampai ke sarang-sarangnya. Jikapun ada buaya, buaya itu tetap tenang berada di dekat kita,” tambahnya.
Terlepas dari semua mitos itu, Yuliansyah tetap mengakui seiring perkembangan jaman kepercayaan orang terhadap semacam hal itu juga akan berkurang. Namun, untuk berjaga-jaga, dia bersama warga setempat selalu saling meningatkan agar berhati-hati ketika melakukan aktivitas di sekitaran sungai Bebatu.
“Itukan hanya mitos, kalau sekarang sudah berbeda. Tapi kita kalau liat ada orang di sungai itu selalu kita tegur. Karena memang banyak buayanya. Terlepas percaya atau tidak, itu semua tergantung dari pribadi masing-masing,” imbuhnya.
Kepercayaan dua mitos tersebut diperkuat Amiruddin, salah seorang warga Sesayap Hilir yang mengaku sejak kecil diberikan pantangan-pantangan tertentu sebelum berada di sungai.
“Kata nenek dulu kalau mau ke sungai harus makan dulu, berdoa dan jangan takabur. Kalau tidak nanti dimakan buaya,” ucap Amirrudin.
Antara percaya dan tidak percaya. Menurut Amiruddin, hal itu menjadi keyakinan sendiri bagi warga jaman dulu.
“Ambil sisi positifnya saja, kita jadi lebih berhati-hati dengan adanya mitos-mitos seperti itu dan memang kejadian orang dimakan buaya jadi jarang terjadi berkat adanya mitos tertentu,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa







