benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Kurang maksimalnya pemasukan daerah melalui pajak lahan tambak, Pemerintah Desa (Pemdes) Bebatu, Kabupaten Tana Tidung (KTT) berencana membuat petani tambak dapat memberikan kontribusi lebih selain dari pajak daerah, seperti mengambil suplai kebutuhan tambak melalui Desa Bebatu.
Hal tersebut lantaran banyaknya masalah administrasi sertifikasi lahan tambak membuat retribusi daerah melalui industri perikanan ini menjadi tidak sesuai dengan jumlah pendapatan dan luas wilayah tambak di Bebatu.
“Luas lahan 28 ribu hektar dengan retrubusi pajak Rp 60 juta pertahun kan tentu tidak sesuai seharusnya nominalnya bisa ratusan juta,” kata Kepala Desa (Kades) Bebatu, Mahmuda kepada benuanta.co.id, Rabu (16/2/2022).
Jika nantinya pernertiban administrasi ini dapat dilakukan, Pemdes berencana membuat petani tambak yang ada di Bebatu dapat memberikan kontribusi. Dalam hal ini, Mahmuda ingin nantinya para petambak dapat mengambil es batu maupun bahan baku lainnya dari Bebatu.
Selain dapat meningkatkan kontribusi, petambak yang menggunakan lahan Desa Bebatu sebagai usaha nantinya juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga setempat.
“Karena kebanyakan petambak di sini asalnya dari kota Tarakan, jadi mereka menjual dan mengambil suplai dari Kota Tarakan juga. Nah, makanya kita ingin mereka bisa mengambil suplai kebutuhan dari wilayah terdekat yaitu Desa Bebatu,” ujarnya.
“Tergantung apakah akan menggunakan pihak ke 3 dalam membuat pabrik es batu ini atau menggunakan Bumdes. Intinya kita ingin para petambak asal luar daerah ini juga memberikan kontribusi bagi Pemkab dan warga KTT,” tambahnya.
Upaya yang dilakukan Pemdes ini turut mendapatkan respon positif warga. Salah satunya Agus, warga Desa Bebatu yang menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut.
Agus menuturkan selama ini para petambak hanya bisa mengambil keuntungan dari sisi letak strategis wilayah Bebatu yang sangat cocok untuk bertambak. Sehingga dengan adanya timbal balik ini membuat desa maupaun warga dan petambak bisa memiliki keuntungan yang sama.
“Jika mereka mengambil suplai dari Tarakan jaraknya jauh. Tapi kalau dari kita kan jaraknya dekat dan lebih hemat. Makanya hal seperti ini yang memang harus dilakukan dari dulu,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa







