benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Sebagai salah satu suku asli Kalimantan Utara (Kaltara), suku Tidung memiliki beberapa khas budaya. Salah satunya yakni motif pada batik yang kini sering digunakan pada Sesingal atau Baju Batik Kaltara.
Sama halnya dengan suku Dayak yang terkenal akan motifnya, suku Tidung memiliki beberapa motif yang umum ditemui pada acara tertentu. Diterangkan salah satu pemerhati kebudayaan Kabupaten Tana Tidung (KTT), Mustarudin kebudayaan suku Tidung KTT dengan suku asli Kaltara memiliki perbedaan yang tidak jauh berbeda khususnya dalam motif batiknya.
“Kalau dilihat sekilas memang motifnya hampir sama. Tapi kalau diteliti lebih dalam itu ada bedanya, kalau Dayak khas lambang motifnya burung enggang. Tapi kalau kita untuk suku Tidung itu sebenarnya ada yang tengkorak dan ada yang motif naga supui yang umum digunakan sekarang,” kata Mustajin.
Motif tengkorak dan motif naga supui, Mustarudin menerangkan 2 motif itu memiliki perbedaan yang didasari dengan kepercayaan dan keyakinan suku Tidung pada zaman dulu.
Ia menerangkan, motif tengkorak digunakan oleh suku Tidung zaman dahulu saat suku Tidung belum memeluk agama Islam dan masih menjalankan adat memotong kepala.
“Kalau orang Tidung dulu itu kan memiliki ego yang sangat tinggi, sehingga setiap berburu hewan atau sedang bertempur, selalu membawa pulang kepala dan itu menjadi kebanggaan untuk suku Tidung dulu. Makanya motif tengkorak selalu menjadi identitas bagi suku Tidung dulu,” terangnya.
Sedangkan untuk motif naga supui, Mustarudin menjelaskan kalau motif itu digunakan oleh suku Tidung sejak suku Tidung mulai mengenal agama Islam.
“Perlahan-lahan motif itu mulai ditinggalkan dan motif naga supui ini dipercaya karena naga merupakan hewan yang dianggap sakral bagi orang Tidung dulu,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Nicky Saputra







