TANA TIDUNG – Pengentasan buta aksara di Kabupaten Tana Tidung (KTT) terus ditingkatkan. Dari tahun ke tahun pemerintah melalui Dinas Pendidikan terus berupaya menuntaskan buta aksara di wilayah Tana Tidung.
Kepala Dinas Pendidikan (Dsidik) KTT, Jafar Siddik, SE mengatakan, buta hurup juga dikategorikan Calistung, yaitu Baca Tulis dan Berhitung. Hal tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa tidak perlu bisa membaca dan menulis. Tetapi menurutnya, untuk meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tentunya buta huruf di masyarakat harus bisa diatasi.
“Sekarang begini, jika kita hanya melakukan pembangunan dari segi fisik saja, sementara pembangunan Sumber Daya Manusianya (SDM)-nya tidak, apa kita bisa membangun. Karena itu dari hasil analisa yang dilakukan, bicara masalah IPM, kita memang sedikit tertinggal dari kabupaten/kota lain, tapi itu terus kita tingkatkan, terutama SDM kita di KTT,” kata Jafar Siddik.
Menurut dia, jumlah buta huruf di KTT setiap tahunnya mengalami penurunan, karena berbagai upaya Dinas Pendidikan melakukan pengentasan yang sudah dilakukan, termasuk pengalolasikan anggaran untuk memberantas masalah itu.
Menurutnya, saat ini sudah ada kegiatan yang dilakukan Disdik, di antaranya belajar membaca, menulis dan berhitung (calistung) serta keterampilan. Selain itu pendidikan lanjutan seperti kesetaraan atau paket A, B dan C, yang terus dilakukan Disdik.
“Itu semua tidak akan berhasil jika tidak ada kesadaran dari masyarakat itu sendiri, terutama yang tidak bisa baca-tulis harus lebih peka untuk bisa baca tulis,” katanya.
Ia mengharapkan, jika ada warga yang tidak bisa baca-tulis harus lebih pro-aktif mendaftarkan diri untuk menjadi peserta belajar. “Di KTT jumlah buta aksara itu sudah menurun dan hanya tinggal 1 persen, untuk data rillnya saya belum bisa pastikan, karena setiap tahunnya pasti ada penurunan dan perubahan. Karena banyak upaya Disdik memberantas buta aksara, dari 34 desa dan 5 kecamatan se-Kabupaten Tana Tidung, semua mempunyai sekolah, jadi untuk upaya sudah maksimal,”ungkapnya.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) KTT, Antung, S.PD mengatakan, buta aksara saat ini sudah menurun di Tana Tidung, karena pelayanan pendidikan sudah berada di setiap desa yang ada di KTT.
Namun masih juga ada masalah. Misalnya di daerah perbatasan seperti Desa Kujau dan ada berapa suku yang sering mengajak anak-anak mereka berladang, yang tadinya anak tersebut bersekolah, namun karena orang tuanya mengajak pergi berladang, akhirnya terkadang tertinggal pelajaran.
“Ini tidak bisa terlalu kita respons, karena pelayanan pendidikan sudah dibuka seluas mungkin. Masalah individualnya seperti mau menetap di hutan dan ladang berpindah-pindah, jadi susah untuk merangkul mereka. Bahkan kepala desa mereka pun, mereka tidak indahkan. Jadi kalau berbicara masalah buta huruf di KTT tidak ada lagi, kalaupun ada hanya 0,2 persen saja,” ungkap Antung.
Upaya PGRI sendiri dalam memberantas buta huruf ialah mencari data terlebih dahulu di wilayah mana yang masih ada. Jika ditemukan, apabila dia bukan pra sekolah maka akan dilakukan program peket A misalnya, dan jika ada yang putus sekolah bisa dianjurkan ke paket B dan masih banyak upaya yang bisa dilakukan.
“Tapi dari PGRI sendiri melihat, pelayanan pendidikan di KTT sudah ada semua prasarana pendidikan. Kalaupun ada yang buta huruf mau diteliti juga susah karena persentasenya sangat kecil. Karena masalah kecil ini kita tidak mungkin ambil sampel datanya, tapi kalaupun ada pasti kita akan tangani dan libatkan ke pendidikan formal. Yang masalah ini ketika orang tua tidak mau antar anaknya ke sekolah, tapi diajak ke hutan, ini yang menjadi masalah,” pungkasnya.(*)
Reporter: Dwi Widdyaswiranata
Editor: M. Yanudin







