Simbol Doa dan Harapan Keluarga, Lilin Raksasa Mulai Hiasi Kelenteng Tarakan Jelang Imlek

benuanta.co.id, TARAKAN — Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Tarakan selalu identik dengan keberadaan lilin-lilin raksasa yang berjajar di kelenteng.

Lilin-lilin ini menjadi simbol doa dan harapan keluarga yang dipanjatkan oleh umat kepada Tuhan Yang Maha Esa di setiap menjelang Imlek, masyarakat Tionghoa di Tarakan memesan lilin besar secara khusus untuk didoakan di kelenteng. Lilin tersebut biasanya mulai dinyalakan pada puncak perayaan, yakni malam tanggal 16 kalender lunar.

“Lilin ini dinyalakan untuk menerangkan keluarga di rumah, supaya mereka lebih fokus, lebih tenang, dan selalu mendapat cahaya,” ujar Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Kota Tarakan sekaligus pengurus Kelenteng Toa Pek Kong, Ayi Dianto, Senin (2/2/2026).

Baca Juga :  MBG Selama Ramadan, Siswa SMP 2 Tarakan Terima Martabak dan Kurma

Lilin-lilin berwarna merah dengan corak naga tersebut akan terus menyala hingga habis, yang diperkirakan berlangsung hampir satu bulan, atau hingga pertengahan bulan berikutnya. Pengelola kelenteng mengatur pembakaran agar lilin dapat bertahan lebih lama.

Tahun ini, pihak kelenteng menyediakan sebanyak 40 pasang lilin besar berdasarkan pesanan masyarakat. Bahkan, disiapkan tambahan dua pasang sebagai stok cadangan, sehingga total mencapai 42 pasang.

Setiap keluarga yang memesan akan mendapatkan satu pasang lilin, terdiri dari dua batang. Pemesanan tidak dapat dilakukan secara satuan karena dalam tradisi kelenteng, lilin harus berjumlah genap sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan.

Baca Juga :  DKPP Tarakan Pastikan Kebutuhan Pangan Jelang Idulfitri Aman, Cabai dan Bawang Jadi Perhatian

Ukuran lilin yang disediakan tergolong besar, dengan tinggi mencapai sekitar dua meter. Meski tersedia ukuran yang lebih besar, keterbatasan tempat membuat pengelola memilih ukuran tersebut.

Lilin-lilin tersebut didatangkan langsung dari Surabaya dan telah dipesan sejak dua bulan sebelum perayaan. Pengiriman baru tiba sekitar lima hari sebelum Imlek.

Untuk satu pasang lilin, dibandrol sekitar Rp3,3 juta. Nama pemesan akan dituliskan pada lilin sebagai identitas keluarga yang mendoakan.

“Yang menyalakan dan mendoakan langsung adalah keluarga masing-masing. Mereka datang sendiri ke kelenteng untuk berdoa,” jelasnya.

Tak hanya itu, Ayi menuturkan masyarakat yang berencana bepergian saat puncak Imlek diperbolehkan menyalakan lilin lebih awal. Namun, mayoritas umat memilih menyalakannya pada malam puncak perayaan, yakni tanggal 16, yang biasanya dipadati pengunjung.

Baca Juga :  Polres Tarakan Imbau Warga Hindari Petasan dan Balap Liar Selama Ramadan

Saat ini, suasana kelenteng mulai ramai sejak beberapa hari sebelum puncak perayaan. Umat dari dalam maupun luar kota turut berdatangan untuk beribadah dan merayakan Imlek bersama keluarga.

Selain ibadah utama, masyarakat juga membawa berbagai perlengkapan sembahyang seperti ayam, buah-buahan, kue, dan jeruk sebagai bagian dari tradisi.

“Perayaan Imlek di Tarakan tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antarumat serta menjaga kelestarian budaya Tionghoa di daerah tersebut,” pungkasny. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *