benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas pelayaran di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) dalam beberapa hari ke depan perlu mendapat perhatian serius. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan menyampaikan, kondisi gelombang di Laut Sulawesi, Perairan Tarakan, hingga perairan perbatasan RI–Malaysia terdampak keberadaan Siklon Tropis Senyar yang saat ini berada di wilayah Filipina bagian timur.
Siklon Tropis Senyar berkembang dari bibit Siklon Tropis 95B di wilayah Perairan timur Kabupaten Aceh Timur, saat ini terpantau berada di daratan Aceh bagian timur tepatnya di sekitar 4.4°LU, 97.9°BT, dengal maksimum mencapai 35 knot (65 km/jam) dan tekanan udara minimum 1.000 hPa.
Kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Senyar menurun dalam 24 jam dan menjadi Tropical Depression/Low dengan arah pergerakan ke arah timur menjauhi wilayah Indonesia.
Informasi resmi BMKG menunjukkan tinggi gelombang di beberapa titik masuk kategori sedang hingga tinggi, terutama pada 27–29 November 2025. Beberapa rute penyeberangan jalur pendek seperti Tarakan–Tengkayu, Tarakan–Tanjung Selor, dan Tarakan–Nunukan berpotensi mengalami gangguan jika kecepatan angin meningkat.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan, siklon ini tidak secara langsung melintasi wilayah Indonesia, namun efek tidak langsungnya signifikan terhadap pola angin di Laut Sulawesi. Ia menjelaskan pola angin dari timur laut yang terbentuk akibat siklon dapat meningkatkan kecepatan angin dan mengangkat tinggi gelombang di perairan Kaltara.
“Siklon Tropis Senyar berada cukup jauh dari Kaltara, namun efek tidak langsungnya tetap terasa. Angin bisa meningkat dalam beberapa hari ke depan, sehingga gelombang ikut naik,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).
Berdasarkan data BMKG dalam prakiraan cuaca maritim, kecepatan angin di wilayah perairan Tarakan dan sekitarnya mencapai 20–30 knot. Kondisi ini dapat memicu gelombang 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa titik. Jika intensitas angin yang dipicu Senyar meningkat, gelombang bisa mencapai kategori tinggi.
Ia menegaskan, nelayan tradisional dan kapal berukuran kecil adalah pihak paling rentan pada situasi seperti ini. Pasalnya, perubahan cuaca bisa terjadi cepat, terutama pada periode pengaruh siklon.
“Kami mengimbau agar nelayan lebih berhati-hati. Cek dulu kondisi cuaca sebelum berangkat, terutama yang menggunakan perahu kecil,” tambahnya.
Selain sektor nelayan, layanan penyeberangan antarpulau juga diminta mengutamakan keselamatan. Masyarakat yang akan bepergian menggunakan kapal cepat disarankan memperhatikan jadwal dan potensi penundaan akibat kondisi laut.
BMKG memastikan, informasi cuaca maritim akan terus diperbarui. Jika aktivitas Siklon Tropis Senyar meningkat atau bergerak mendekati wilayah pengaruh lebih besar. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







