benuanta.co.id, TARAKAN – Kesehatan tubuh tidak hanya ditentukan oleh obat-obatan atau perawatan medis, tetapi juga oleh pola hidup sehat yang terjaga. Keseimbangan asupan gizi, aktivitas fisik, serta kedisiplinan menjalani rutinitas sehat menjadi kunci agar terhindar dari berbagai penyakit kronis maupun degeneratif.
Dokter Spesialis Gizi RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Husnul Khatimah, Sp.GK., menekankan manusia membutuhkan nutrisi seimbang untuk tumbuh dan menjalankan fungsi sehari-hari. Menurutnya, gizi yang tidak seimbang bisa berujung pada masalah serius.
“Kalau manusia tidak memiliki gizi yang seimbang, dia bisa menjadi kurus, pertahanan tubuhnya menurun, lalu penyakit mudah masuk,” ungkapnya, Senin (29/9/2025).
Keseimbangan gizi meliputi pemenuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan. Dokter Husnul mengingatkan, jika konsumsi berlebih dapat berisiko pada obesitas dan penyakit turunan, sementara kekurangan bisa berujung pada malnutrisi.
“Kalau kelebihan pola makan tidak bagus, bisa obesitas (kegemukan), hipertensi (tekanan darah tinggi), bahkan diabetes mellitus (kecing manis),” ujarnya.
Selain gizi, pola makan yang teratur juga menentukan kondisi kesehatan. Ia mencontohkan pasien dengan penyakit tertentu seperti diabetes atau pascaoperasi yang memerlukan diet khusus.
“Kami atur sedemikian rupa, misalnya pasien diabetes perlu lebih banyak sayur sebagai sumber serat dibanding karbohidrat terutama karbohidrat sederhana seperti nasi, gula, roti, dan mie,” katanya.
Olahraga juga menjadi bagian penting dalam menjaga pola hidup sehat. Jalan kaki, kata dr. Husnul, sudah cukup efektif bila dilakukan rutin dan bertahap. “Awalnya 15 menit, lalu naik menjadi 30 menit, 45 menit, hingga 60 menit. Yang penting konsisten lima kali seminggu,” terangnya.
Namun, ia mengingatkan agar setiap orang mengenali kondisi tubuhnya sebelum memulai aktivitas fisik. Aktivitas berlebihan tanpa kesiapan justru bisa membahayakan. “Sekarang banyak yang ingin olahraga mendadak, tapi justru kelelahan hingga fatal. Jadi harus sesuai kemampuan diri,” imbuhnya.
Selain aktivitas fisik, menjaga otot di usia muda penting agar tetap bugar di usia tua. Hilangnya massa otot atau sarkopenia bisa dicegah dengan latihan teratur. “Mulai dari sekarang, kalau mau nge-gym silakan, tapi dengan porsi tepat supaya otot bisa dipakai sampai usia 60–70 tahun,” paparnya.
Data kesehatan juga menunjukkan obesitas menjadi masalah global dan nasional. Pola makan tidak sehat serta akses mudah ke makanan instan memperparah kondisi. “Obesitas kini tidak mengenal usia, dari anak-anak hingga dewasa semua bisa kena,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan imbauan agar setiap orang sadar diri menjaga pola hidup. Menurutnya, dampak pola makan yang salah tidak hanya dirasakan pribadi, tetapi juga keluarga. “Apa yang kita masukkan ke tubuh jangan sampai justru menjadi penyakit. Kalau kita sakit, keluarga juga ikut kerepotan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







