benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat tingkat pengangguran pada Agustus 2024 sebesar 5,11 persen. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Setiap bulan Agustus, kami memotret kondisi ketenagakerjaan, dan tahun ini terjadi penurunan angka pengangguran dibandingkan 2023,” ujar Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi (21/2/25)
Ia menjelaskan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan. Hal ini sejalan dengan karakteristik ekonomi Tarakan yang berbasis jasa.
“Perdagangan menjadi sektor utama karena struktur ekonomi kota lebih condong ke jasa dibandingkan industri atau manufaktur,” katanya.
Selain itu, Umar Riyadi menyoroti bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap angka pengangguran.
Berdasarkan data BPS, lulusan SMA/SMK mendominasi jumlah pengangguran di Kota Tarakan, yaitu sebesar 65 persen lebih.
“Sementara untuk lulusan perguruan tinggi, berkontribusi sebesar 22,14 persen dari total pengangguran,” ungkapnya.
Menurutnya, tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi menunjukkan pendidikan formal saja tidak cukup untuk menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan. Ia menekankan pentingnya keterampilan tambahan agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
“Pendidikan tinggi memang penting, tapi tanpa keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar, lulusan perguruan tinggi bisa kesulitan mendapatkan pekerjaan,” jelasnya.
Dalam dunia kerja saat ini, soft skill menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing tenaga kerja. Umar Riyadi mengungkapkan bahwa banyak perusahaan mencari calon pekerja yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan komunikasi, kerja tim, dan problem solving.
“Salah satu tekanan dalam dunia kerja saat ini adalah kemampuan soft skill. Perusahaan mencari karyawan yang tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga punya keterampilan interpersonal yang baik,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pencari kerja perlu lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan industri. Menurutnya, perkembangan teknologi dan digitalisasi membuat beberapa pekerjaan semakin membutuhkan keterampilan teknis yang lebih spesifik.
“Lapangan kerja terus berubah, jadi penting bagi pencari kerja untuk terus meningkatkan keterampilan mereka agar tetap relevan dengan kebutuhan industri,” tambahnya.
Umar Riyadi berharap ke depan dunia pendidikan dapat lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Ia menilai bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan industri sangat diperlukan agar lulusan yang dihasilkan bisa lebih siap kerja.
“Diperlukan sinergi antara pendidikan dan dunia usaha agar lulusan kita benar-benar siap bersaing di pasar tenaga kerja,” tegasnya.
Umar mengingatkan pengangguran bukan hanya persoalan jumlah lapangan kerja, tetapi juga kesiapan tenaga kerja itu sendiri.
“Kita semua harus memahami bahwa untuk mendapatkan pekerjaan tidak cukup hanya dengan ijazah. Keterampilan dan kesiapan mental juga menjadi kunci utama,” pungkasnya.(*)
Reporter: Nurul Auliyah
Editor: Ramli







