benuanta.co.id, NUNUKAN – Upaya pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya lokal seperti batik Lulantatibu khas Kabupaten Nunukan dan aksesories etnik Kalimantan Utara, maka ditetapkan penggunaan batik dan aksesories menjadi pakaian dinas dilingkungan pemerintah daerah (Pemda) Nunukan pada setiap Kamis. Hal itu berdasarkan Surat Edaran Bupati (SEB) nomor 188.45/467/X/2021.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Nunukan, Syafarudin mengatakan, untuk batik lulantatibu ini akan digunakan setiap hari Kamis sebagai baju dinas Pemda Nunukan.
Tidak hanya itu, ada juga syal manik yang wajib digunakan setiap hari rabu dan juga pada kegiatan rapat baik itu dalam daerah maupun luar daerah.
“SK Bupati itu sudah kita serahkan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se Kabupaten Nunukan agar pakaian batik dan aksesories dapat digunakan minggu ini,” kata Syafarudin, kepada benuanta.co.id, Ahad (24/10/2021).
Lanjut Syafarudin, untuk hari Jumat akan menggunakan etnik baju batik Nunukan dan Kaltara, karena pengrajin di Nunukan bukan hanya batik Lulantatibu, tapi ada juga Lundayeh, Agabag, Tidung dan Bulungan dan sebagainya batik etnik tersebut dapat digunakan pada hari Jumat.
“Untuk kain atau motif kita sudah ada karena pengrajin kita ini adalah orang Nunukan, cap dan tulis sudah bisa kita produksi sendiri, kecuali yang printing itu masih pesan karena menggunakan mesin,” jelasnya.
Jadi pengrajin yang ada di Nunukan juga sudah siap memenuhi kebutuhan baju batik asal Nunukan yakni Lulantatibu, ini juga sudah sejak lama beroperasi bukan karena adanya SK Bupati baru perajin ini produksi yang telah terjual dimana-mana.
Syafarudin mengimbau kepada perajin manik agar bisa memproduksi lebih banyak, tentu ini juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi para UMKM di Nunukan.
“Mereka harus siap membuat manik tersebut sehingga tidak mengambil dari luar, jika perajin di Nunukan ada kenapa harus mengambil diluar, ini juga untuk meningkatkan kesejahteraan UMKM di Nunukan,” ujarnya.
Perlu diketahui, batik lulantatibu ini terdiri dari beberapa empat motif yakni arit tabuk dari etnis Lundayeh, persatuan dari etnis Tahalan, Tameng dari etnis Tagahol atau Tahol, sedangkan yang terakhir yakni persatuan dan bunga raya dari etnis Tidung dan Bulungan.(*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







