Pemkab Bulukumba Gandeng Mantan Petinggi KPK Benahi Aliran Sungai Kajang

BULUKUMBA, benuanta.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba menggandeng mantan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia, Laode Muhammad Syarif untuk melakukan pembenahan aliran sungai di wilayah Adat Ammato Kajang.

Kedatangan mantan petinggi lembaga anti rasuah itu ke Kabupaten Bulukumba bertepatan di hari kemerdekaan, Rabu, 17 Agustus 2022. Kedatangannya ke daerah berjuluk Butta Pantita Lopi ini kapasitasnya sebagai direktur Eksekutif Kemitraan Partnership.

Dia menjalankan program adaptasi perubahan iklim melalui tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Adat Ammatoa Kajang.

Menurut Laode, pihaknya ke daerah ini guna membicarakan progres dan kelanjutan program adaptasi perubahan iklim yang dilaksanakan konsorsium lembaga Payo-payo dan OASE. Program ini merupakan yang pertama di Indonesia memperbaiki daerah aliran sungai.

“Mendengar pandangan dari Bupati dan Wakil Bupati yang mendukung program ini. Maka semoga saja untuk pengembangan proyek berikutnya kita bisa tingkatkan dengan proyek lebih besar,” ujar Laode.

Didampingi oleh direktur Program, Dewi Rizki dan pelaksana program dari Payo-Payo dan OASE. Dia berharap agar program ini akan menjadi kontribusi yang baik bagi pelestarian lingkungan di Bulukumba, dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Apalagi, kata dia, ini merupakan yang pertama di Indonesia dalam perubahan iklim aliran sungai, sehingga harus berjalan baik.

Sementara Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, mengemukakan pandangannya terhadap pelestarian lingkungan yang menurutnya sudah mengalami gradasi atau penurunan sejak puluhan tahun. Dia memberi contoh aliran sungai Balangtieng yang saat ini debit airnya sudah berkurang.

“Dulu 30 tahun lalu, kalau musim kemarau, air sungai masih menutupi bebatuan. Tapi, sekarang kondisi seperti itu tidak ada lagi,” ungkap bupati yang berlatarbelakang pengusaha ini.

Dia menilai, bahwa isu pelestarian lingkungan penting direspon dan mendapat dukungan berbagai pihak, dalam rangkah mencegah kerusakan yang lebih parah ke depannya. Daerah aliran sungai penting melakukan penghijauan atau penanaman pohon kembali dengan jenis tanaman yang cocok.

“Jenis tanaman di sekitar aliran sungai cocoknya tanaman sukun. Karena akar pohonnya memiliki serapan air yang tinggi. Ini harus dilakukan guna mencegah kerusakan lingkungan,” ungkapnya.

Program bibit unggul, lanjut dia, saat ini dilaksanakan pemerintah daerah, juga akan memprioritaskan bibit tanaman sukun untuk wilayah daerah aliran sungai. Selain dinilai memiliki kekuatan pohon yang kuat, buah sukun juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Program adaptasi perubahan Iklim di Kajang, kami mendukung kelanjutanya. Karena selain dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan,” bebernya.

Program ini adalah meningkatkan ketahanan dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim bagi masyarakat rentan, melalui tata kelola DAS terpadu yang berkelanjutan di Masyarakat Adat Ammatoa Kajang di Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

“Tiga DAS yang menjadi lokasi program, yakni DAS Apparang, DAS Raowa, DAS Baonto. Sejumlah kegiatan tengah didorong yaitu pembentukan Forum DAS, penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API),” tutupnya. (*)

Reporter: Akbar

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *