benuanta.co.id, NUNUKAN – Tiga pekan sudah aksi blokade jalan perbatasan Long Midang-Ba Kelalan berlangsung, sejak Selasa 5 Mei 2022 lalu. Hingga saat ini sekelompok masyarakat Krayan masih memblok jalan perbatasan lintas negara tersebut.
Camat Krayan, Ronny Firdaus mengatakan sampai saat ini jalan perbatasan tersebut masih di blokade oleh sekelompok masyarakat sehingga tidak ada akses perlintasan.
“Sudah tiga Minggu, hingga hari ini jalan perbatasan Long Midang-Ba Kelalan masih terus di blokde. Aksi tersebut akan terus dilakukan hingga tuntutan mereka terpenuhi,” ujar Ronny kepada benuanta.co.id, Selasa (26/7/2022)
Ronny mengungkapkan, terkait pemenuhan kebutuhan pokok, masih sama seperti keadaan selama masa pandemi Covid-19 atau tidak mengalami perubahan signifikan.
“Untuk stok kebutuhan sembako sejauh ini masih terjaga. Kalau dibilang langka tidak, sembakonya ada namun harganya yang mahal,” katanya.
Harga mahal ini lantaran sembako tersebut didatangkan dari kota-kota terdekat dalam wilayah Kalimantan Utara seperti dari Nunukan, Malinau dan Kota Tarakan.
“Karena didatangkan naik pesawat tentu harganya tinggi, berbeda kalau didatangkan dari Malaysia itu harganya separuh dari harga sembako lokal,” ungkapnya.
Dicontohkannya, kebutuhan sembako yang paling dibutuhkan yakni gula. Harga gula produk Indonesia di Long Bawan Krayan berkisar Rp 38 ribu per kilogram, namun saat dibawa ke desa-desa di Krayan harganya bisa mencapai Rp 45 – Rp 50 ribu per kilogram.
Namun saat sembako dari Malaysia didatangkan selama pandemi melalui Koperasi Mitra Utama tersebut harga gula Malaysia di Ling bawan Krayan yakni Rp 26 ribu per kilogram, saat masuk ke desa-desa di Krayan harganya naik menjadi Rp 30 ribu per kilogram.
“Sebenarnya harganya masih di bawah kalau dari Malaysia melalui koperasi jika dibandingkan dengan sembako dari Indonesia,” terangnya.
Lebih jauh Ronny menjelaskan jika dibandingkan lagi dengan harga sebelum pandemi yakni melalui perdagangan tradisional. Harga gula dari Malaysia bisa didapatkan dengan harga lebih murah, mulai dari Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram.
“Jadi kalau masuk ke desa-desa harganya hanya mencapai Rp 20 ribu per kilogram, hal inilah yang dituntut oleh masyarakat agar bisa mendapatkan sembako dari Malaysia dengan harga seperti itu kembali,” jelasnya.
Hal lain yang menambah masalah di Krayan yaitu sulitnya mendapatkan material bangunan, seperti semen, besi, atap seng, plywood dan material lainnya dari kota.
Terpisah, Imaucan masyarakat Krayan menuturkan dengan masih berlangsungnya blokade jalan saat ini berpengaruh terhadap ketersediaan bahan material. Sebab, selama ini pemenuhan material bangunan bergantung dari Malaysia.
“Kalau barang material pernah didatangkan dari Tarakan tapi haraganya mahal, untuk semen saja harganya kalau sudah sampai di sini bisa mencapai Rp 1,2 juta per sak, sedangkan kalau dari Malaysia hanya Rp 300 ribu per sak,” tutur Imaucan.
Imaucan berharap, persoalan ini bisa segera diselesaikan pemerintah dengan mengambil tindakan untuk segera membuka jalan yang diblokde tersebut.
“Blokade sangat berdampak bagi masyarakat banyak di Krayan,” tutupnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Yogi Wibawa







